Nahdlatul Ulama Kota Madiun

sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah

Youtube

Profil

Sejarah

Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Read More

Visi Misi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Pengurus

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Madiun terdiri dari 3 unsur kepengurusan, Mustasyar (Penasihat), Syuriyah (Pimpinan tertinggi), dan Tanfidziyah (Pelaksana Harian).

Read More

MWC

MWC (Majelis Wakil Cabang) merupakan kepengurusan di tingkat kecamatan, terdiri dari MWC NU Manguharjo, MWC NU Kartoharjo, dan MWC NU Taman.

Read More

Warta

Saturday, September 24, 2022

Gus Nadhif: Putra Asli Kota Pendekar Bawa Pencak Silat ke Belanda

NU Kota Madiun – Nadhif Muhammad Mumtaz tau yang akrab disapa Gus Nadhif ini merupakan salah satu putra dari Mustasyar PCNU Kota Madiun yaitu KH. Fuad Hariri. 


Gus Nadhif menjadi salah satu sosok pemuda yang layak diberi slogan “Yang Muda Yang Berkarya”, bagaimana tidak? Pria yang lahir pada tahun 1995 ini sudah banyak mengantongi karya di usia yang terbilang masih cukup muda.


Gus Nadhif yang tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Tambakberas Jombang ini juga menjadi salah satu alumni Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim Malang pada tahun 2018. Tidak cukup disitu, Gus Nadhif juga melanjutkan proses belajar ke jenjang S2 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus pada tahun 2021.


Dikenal sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi, pada kenyataannya Gus Nadhif juga masih tetap berprestasi. Beliau berhasil meraih penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2021 lalu.


“Jurusan yang Saya ambil di UIN Jakarta ini terkenal cukup sulit, sebab tahapan yang dilalui seperti ujian proposal, WIP 1, WIP 2, ujian pendahuluan, dan baru kemudian promosi tesis,” ujar Gus Nadhif, saat dihubungi oleh tim warta NU Kota Madiun.


Salah satu hal yang terbilang cukup unik dari sosok yang mengidolakan Prof. Dr. H. Abudin Nata ini adalah beliau merupakan mahasiswa yang rajin.

“Saya tidak pinter juga, hanya beruntung dan memang tergolong rajin,” imbuhnya.


Pada masa mengembara—begitulah kiranya istilah yang kami gunakan untuk menggambarkan suatu proses—yang Gus Nadhif jalani sejak berkuliah di UIN Malik Ibrahim Malang, ada banyak prestasi yang telah didapatkan. Seperti menjadi Ketua UKM Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa UIN Malang, Ketua Association of International Class Program, bahkan menjadi Ketua Pencak Silat di ranah Perguruan Tinggi.


Hal itu membuktikan bahwa kiprah Gus Nadhif dalam berproses benar-benar matang melalui beberapa organisasi tersebut. Dan jangan salah, pada jenjang S2 ternyata “pengembaraan” Gus Nadhif masih terus berlanjut.


Bagaimana tidak, Gus Nadhif berhasil mengikuti konferensi artikel dan pernah mempresentasikannya pada event “3rd Biennial International Conference”, dan artikel yang dipresentasikan Gus Nadhif adalah berjudul “Mutual Supporting Between Islamic Law and Customary Law.”


Dalam tulisannya, Gus Nadhif mengangkat dua Perguruan Pencak Silat yang merupakan budaya lokal untuk dipaparkan ke Negeri Kincir Angin itu, yaitu Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang digali informasinya langsung dari suwargi Romo Yai Agus Sunyoto di Malang, yang mewakili Perguruan di bawah naungan ormas Islam dan juga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang digelutinya sedari Tsanawiyah tatkala mondok, yang mewakili Perguruan bukan naungan ormas Islam. 


Gus Nadhif ingin menggambarkan bahwasanya Hukum Islam dengan Hukum Adat ternyata bisa jalan seiringan dan tidak berat sebelah. Keinginan untuk menyempurnakan teori dari  Dr. Snouck Hurgronje yang menganggap Hukum Adat di atas Hukum Agama dan juga teori dari Prof. Sayuti yang menilai Hukum Agama lebih utama dibandingkan Hukum Adat jadi modal Gus Nadhif untuk bisa menulis karya ilmiah tersebut. 

Gus Nadhif menceritakan pada acara yang digelar saat musim semi itu juga dihadiri oleh Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) serta Prof. Dr.Phil. Sahiron, M.A. Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai Keynote Speaker. 


Selain tulisan abstrak yang akhirnya bisa mengantarkannya untuk mengikuti agenda itu juga banyak tulisan Gus Nadhif yang terbit pada beberapa jurnal, dan bahkan beliau juga menulis dua buku yang berjudul Guru Ideal dan Jurang. Gus Nadhif sendiri berpendapat jika kita punya ilmu dari hasil belajar maka ada tuntutan untuk mengamalkannya nah salah satunya adalah dengan cara menulis dengan harapan bisa bermanfaat kepada orang lain. 


Dari jejak tersebut kiranya mampu diartikan bahwa Gus Nadhif memang menekuni bidang literasi, salah satu hal yang bagi sebagian orang dianggap sulit dan menakutkan. Melalui karya dan tulisan Gus Nadhif, setidaknya ada fakta bahwa skill menulis memang ada dan bahkan dibutuhkan di era saat ini.

“Mayoritas orang akan merasa takut tulisannya tidak berkualitas, dan persoalan takut untuk menulis adalah problem terbesar. Menurut saya, tidak masalah jika tulisan kita dikritik, sebab jika menilik dalam dunia filsafat maka tidak ada kata salah dan benar. Semua berdialektika untuk menuju kesempurnaan,” tegasnya.


Ketekunannya dalam bidang literasi dan juga pendidikan rupanya membawa Gus Nadhif tiba pada jenjang pendidikan S3.


Beliau melanjutkan studi di UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) sekaligus menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo.


Gus Nadhif, satu cahaya yang mulai bersinar dari Kota Madiun, memberikan letupan semangat bagi generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) untuk tetap berproses dan belajar, agar kelak turut memperjuangkan NU dimanapun berada.

Semoga.***

Kontributor : Intan Gandhini

Editor : Haris Saputro

Thursday, September 22, 2022

Alissa Wahid, Hidupkan Semangat Toleransi Melalui Gerakan Moderasi Beragama

Alissa Wahid merupakan seorang putri sulung dari Gusdur dan saat ini menjadi sosok pencetus jaringan Gusdurian Indonesia.


Pada agenda seminar internasional dalam rangkaian "The 3rd International Conference Islamic Studies (ICIS) 2022", Alissa Wahid memaparkan beberapa hal dalam agenda yang diadakan oleh Rumah Jurnal IAIN Ponorogo tersebut. 


Dengan berlokasi di Graha Watoe Dhakon, Alissa Wahid menjelaskan betapa pentingnya memahami moderasi beragama khususnya untuk para generasi muda. 


Moderasi beragama kini bukan hanya sebatas jargon semata, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam dari itu. Bahkan, Alissa Wahid memaparkan beberapa hal yang menjadi tantangan dari adanya moderasi beragama ini. 


Dengan tema besar "Contestation of Religius Moderation in Contemporary Muslim Society" dalam seminar tersebut, Alissa Wahid tidak lupa menjelaskan apa yang menjadi harapannya untuk generasi emas mendatang. 


"Urgensi moderasi beragama menurut Kemenag ada 3, yaitu berkembangnya cara pandang dan sikap dalam beragama, berkembangnya klaim kebenaran dan pemaksaan klaim tersebut, dan berkembangnya senangat beragama yang tidak selaras dengan identitas bangsabangsa," kata Alissa Wahid. 


Moderasi beragama bisa digalakkan salah satunya adalah melalui masifisme media sosial. Hal tersebut tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab para pemilik akun bercentang biru saja, melainkan juga urusan kita semua. 




Generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran cukup penting dalam perkembangan moderasi beragama, sebab yang muda yang mampu memperjuangkan perannya. 


Bahkan, Alissa Wahid tidak lupa menjelaskan dengan adanya moderasi beragama ini kelak akan mampu menjadi salah satu kunci kedamaian antar umat beragama, khususnya di Indonesia. 


"Ini bukan hanya sekadar kepedulian, tetapi ini panggilan bagi kita. Corak keislaman seperti apa yang akan kita tunjukkan pada dunia, Indonesia adalah kabar baik bagi peradaban islam dan peradaban dunia," ujar Alissa Wahid. 


Moderasi beragama kiranya mampu menjadi salah satu hal yang harus terus dihidupkan, digerakkan, dan ditumbuhkan. 


Bukan hanya karena hari ini seluruh generasi muda dituntut perannya, tetapi ini adalah sebuah goals untuk perkembangan dan kemaslahatan Nahdlatul Ulama kedepannya. 


Moderasi beragama harus terus disuarakan, melalui media sosial, website, dan beberapa tulisan yang bisa hidup sampai kapan saja. 


Kelak, moderasi beragama akan mampu dijadikan senjata untuk terus menghargai perbedaan dan mewujudkan keadilan agar mampu mencapai kedamaian. 


Semoga.***


📝 : Intan Gandhini

Wednesday, September 21, 2022

Lewat ‘BARBERKU’, LKKNU Kota Madiun Tumbuhkan Sikap Dermawan dan Pupuk Kepedulian

Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kota Madiun luncurkan program kepedulian sesama dengan branding ‘BARBERKU’ atau dengan kepanjangan Barang Bekas Berkualtas.

Program ini digagas oleh tim LKKNU Kota Madiun dan merupakan hasil musyawarah bersama untuk merumuskan program yang bisa dijalankan.

Eliyyi Akbar, selaku Ketua LKKNU Kota Madiun, saat dihubungi oleh tim LTNNU Kota Madiun, pada Rabu, 21 September 2022, menjelaskan awal mula adanya program tersebut. Pihaknya menerangkan bahwa program tersebut memang buah pemikiran dari tim LKKNU.

“Bukan, gagasan ini bukan dari saya pribadi, tapi hasil dari musyawarah sahabat-sahabat LKKNU Kota Madiun. Awal mulanya program ini dicanangkan dengan melihat fenomena keresahan keluarga yang bingung membuang barang-barang yang tidak terpakai, sehingga kami menginisiasi program sedekah barang kayak pakai dan barang bekas,” ujar Eliyyi Akbar.

Program yang digadang sebagai salah satu kegiatan maslahah ini, rupanya memiliki nilai filosofis yang mendalam sehingga sangat tepat dijalankan khususnya di Kota Madiun.

“Selain itu, program ini dibuat sebagai bentuk peningkatan sedekah. Shodaqoh tidak harus berupa uang, tapi barang bekas pun boleh. Kami menerima kardus, botol Aqua, gelas Aqua, koran, majalah, buku serta barang yang berjubel di lemari seperti sovenir yang over banyak,” jelas Eliyyi Akbar.

Perlu diketahui, program yang digagas sejak tanggal 16 oktober 2021 ini ternyata memiliki tujuan yang cukup serius.

Bahkan Eliyyi Akbar juga menjelaskan adanya program ‘Barberku’ ini akan mampu berdampak kepada masyarakat dan juga kepada Nahdlatul Ulama (NU) itu sendiri.

“Program ini bertujuan untuk mewujudkan kemandirian organisasi dalam penyelenggaraan semua kegiatan. Hasil dari ‘Barberku’ akan kembali kepada keluarga NU juga seperti santunan atau pemberian bantuan kepada keluarga yang membutuhkan. Jadi prinsipnya, dari NU dan untuk NU,” kata Eliyyi Akbar .

Meski termasuk program yang jarang ditemui di Banom NU yang lain, ‘Barberku’ ternyata mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat.

“Ternyata program ini sangat luar biasa mendapatkan antusias dari masyarakat. banyak yang memberikan barang bekas seperti televisi, baju sangat layak pakai, sound, dan lainnya,” imbuhnya.

Setelah semua barang bekas berkualitas tersebut terkumpul, maka tim LKKNU akan membuka bazar untuk kemudian menjualnya dengan harga seikhlasnya.



“Baju layak pakai ini di bazarkan dengan harga seikhlasnya, barang bekas lainnya juga dijual kembali dan hasilnya disalurkan kepada anak-anak yatim, piatu, yatim piatu serta anak yang memang membutuhkan,” pungkasnya.***

📝 Intan Gandhini

Badan Otonom

Muslimat NU
Read More
GP Ansor
Read More
Fatayat NU
Read More
IPNU
Read More
IPPNU
Read More
PMII
Read More
Jatman
Read More
JQH NU
Read More
ISNU
Read More
PSNU PN
Read More

Lembaga

LP Ma'arif NU
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama
RMINU
Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama
LBMNU
Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama
LESBUMI
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia
LAZISNU
Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama
LTNNU
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama
LAKPESDAM
Kajian Pengembangan Sumber daya
LDNU
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
LPBINU
Penanggulangan Bencana Perubahan Iklim
LTMNU
Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama
LKKNU
Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama
LFNU
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama
LPBHNU
Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama
LPNU
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama
LPPNU
Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama
LKNU
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama
LPTNU
Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama
LTN NU
Lembaga Infokom dan Publikasi Nahdlatul Ulama
LWPNU
Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama

Contact

Talk to us

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis)

Alamat:

Jl. Tuntang, Pandean, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur 63133

Jam Kerja:

Setiap Hari 24 Jam

Telpon:

-