Nahdlatul Ulama Kota Madiun

sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah

Youtube

Profil

Sejarah

Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Read More

Visi Misi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Pengurus

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Madiun terdiri dari 3 unsur kepengurusan, Mustasyar (Penasihat), Syuriyah (Pimpinan tertinggi), dan Tanfidziyah (Pelaksana Harian).

Read More

MWC

MWC (Majelis Wakil Cabang) merupakan kepengurusan di tingkat kecamatan, terdiri dari MWC NU Manguharjo, MWC NU Kartoharjo, dan MWC NU Taman.

Read More

Warta

Saturday, August 6, 2022

Saiduk, Seorang Nasrani yang Masuk Islam di Hari Asyura

Suatu hari, bertepatan dengan Asyura ada seorang fakir yang memiliki tanggungan anak pergi ke rumah tuan Qadli (hakim). Sebetulnya dia enggan meminta karena dia juga seorang Alawiyyin, akan tetapi melihat anaknya yang sudah berhari-hari tidak makan ia pun pergi menuju kota. Untuk menuju ke kota, ia harus berjalan cukup jauh melewati padang pasir. Akhirnya, tibalah ia di rumah tuan Qadli. Ia pun menceritakan keadaannya. “Inii rajulun fakirun dzu ‘iyalin (saya ini lelaki fakir yang punya banyak tanggungan keluarga). Hari ini bertepatan 10 Muharam, saya mau minta kepada anda tidak banyak: 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham,” kata si fakir. “Iya, Pak, nanti siang anda ke sini lagi,” jawab Qadli.




Lalu pulanglah ia ke desa, sementara itu anaknya melihat kedatangan sang ayah merasa gembira. Berharap membawa sesuatu untuk dimakan. Akan tetapi kali ini ia pulang dengan tangan hampa. “Sabar ya nak, nanti siang ayah kembali lagi ke sana,” jawab sang ayah. Siangnya, si fakir kembali menemui Qadli dan mendapat jawaban sama. “Maaf, nanti sore kembali lagi ya, Pak,” jawab Qadli.


Jawaban tersebut terulang lagi, ketika pada sore harinya si fakir menemui Qadli. Bahkan, ia justru mendapat makian dari Qadli karena meminta-minta. Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. “Ya Allah! Mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!” pinta fakir.


Maka ia pun pulang dengan langkah gontai. Namun, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang Nasrani bernama Saiduk. “Ada apa, Pak, kenapa menangis?” tanya Saiduk. “Jangan tanya kondisi saya,” jawab fakir. “Saya tanya, billahi, mengapa kamu menangis?” tanya Saiduk kembali. Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba, kemudian ia bertanya. “Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?” tanya Saiduk. “10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,” jawab fakir. “Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta,” jawab Saiduk. Tidak hanya itu, bahkan Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan kepada si fakir. Hal ini membuat fakir bahagia. Ia pun pulang dengan disambut gembira anak-anaknya, sebab kali ini ia pulang dengan membawa sejumlah makanan dan uang. “Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,” ungkap anak-anaknya. Sementara itu, pada malam harinya tuan Qadli bermimpi. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif). “Angkat kepalamu!” Dilihatnya dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak. “Ini untuk siapa?” tanya Qadli. “Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhannya orang fakir tadi, tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk,” jawab hatif. Esok hari, tua Qadli bergegas menuju ke rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam. “Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?” tanya Qadli. Saiduk pun menceritakan kembali, tentang seorang fakir yang bertemu dengannya semalam.. “Baiklah Saiduk, apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,” kata Qadli. Namun, di luar dugaan tawaran tersebut ditampik Saiduk. “Tuan Qadhi, jangankan sejumlah yang anda tawarkan. Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan dan pegang tangan saya, Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” tukas Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah menjadi orang yang beruntung, sesuai dengan namanya.


Sumber: kitab an-Nawadir karya Ahmad Syihabudin bin Salamah al-Qalyubi

Monday, August 1, 2022

Karomah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

SALAM DARI MAKAM RASULULLAH SAW




Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA adalah sahabat yang paling dekat kepada Rasulullah SAW, beliau juga termasuk orang yang paling pertama masuk Islam. Dia terkenal dengan kejujurannya bahkan sebelum memasuki agama Islam. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memiliki keutamaan dan kelebihan yang banyak sekali. Adapun kisah yang akan dinukilkan kali ini adalah mengenai karomah (kelebihan atau kemuliaan yang Allah berikan kepadanya).


Semoga apa yang dinukilkan ini, dapat menambah keimanan kita. Bahwa karomah dapat diberikan kepada siapa saja yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dan yang perlu kita perhatikan adalah jangan beribadah berharap pada karomah.


Hidangan Bertambah Banyak

Diriwayatkan dari Imam Bukhori dan Imam Muslim bahwa Sayyidina Abdurrahman bin Sayyidina Abu Bakar berkata, "Pada suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA didatangi oleh tiga orang tamu di rumahnya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pergi menemui Rasulullah SAW untuk makan malam. Ia baru kembali ke rumahnya pada tengah malam. Setibanya di rumah, istrinya bertanya, "Apa yang menyebabkan kamu menahan tiga orang tamumu di sini?" "Sudahkah engkau berikan makan malam pada tiga orang tamuku itu?" tanya Sayyidina Abu Bakar pada istrinya kembali.

Istrinya menjawab "Mereka tidak mau makan sebelum engkau datang." "Demi Allah, sedikitpun aku tidak akan makan." ucap Sayyidina Abu Bakar.

Kemudian Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menemui tamunya dan berkata, "Makanlah hidangan ini."

"Demi Allah, kami sungguh heran. Setiap kali kami makan sesuap, hidangan itu menjadi bertambah banyak sampai kami semua merasa kekenyangan. Dan hidangan itu bertambah banyak saja dari semula." jawab seorang tamu.

Ketika Sayyidina Abu Bakar melihatnya, ia pun melihat hidangan itu sangat banyak. Lalu ia bertanya pada istrinya, "Wahai istriku, apakah engkau memasak makanan sebanyak ini?"

"Tidak, Demi Allah! Sungguh hidangan ini bertambah banyak tiga kali dari semula.", jawab istrinya menjelaskan.

Kemudian Sayyidina Abu Bakar ikut makan dari hidangan itu sambil berkata, "Mungkin ini perbuatan syetan." Setelah para tamunya pulang. Sayyidina Abu Bakar membawa hidangan itu kepada Rasulullah SAW. Esok paginya, hidangan itu seperti semula. Saat itu, kami sedang mempunyai janji dengan suatu kaum. Setelah batas waktunya berlalu, dua belas orang dari kami keluar. Mereka sambil membawa teman-temannya yang banyak. Kemudian Rasulullah SAW menyuruh mereka datang lagi untuk makan bersama hidangan itu hingga puas.",


Melihat Janin di Kandungan

Dalam riwayat lain Sayyidina Urwah bin Zubair RA meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RAnha bahwa Sayyidina Abu Bakar pernah memberikan 20 gantang hasil kurma semasa ia sehat. Ketika telah mendekati ajalnya beliau berkata," Hai putraku, tidak seorangpun berada dalam keadaan cukup yang lebih kusenangi daripada dirimu, dan tidak akan ada seorang pun berada dalam kesempitan yang tidak kuinginkan daripada dirimu. Dulu ketika kuberikan kepadamu hasil kurma sebanyak 20 gantang engkau tidak akan menerimanya.

Sekarang hasil kurma itu akan menjadi harta waris. Oleh karena itu, nanti bagikanlah pada kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu sesuai ketetapan Al-Qur'an."

"Wahai ayahku, saudara perempuanku hanya satu yaitu Asma', lalu siapa yang lain? tanya Sayyidah Aisyah keheranan. Sayyidina Abu Bakar menjawab, "Aku melihat dari kandungan ibumu akan lahir seorang perempuan." Siti Aisyah berkata, "Apa yang dikatakannya benar, bayi yang lahir kemudian adalah perempuan."

Demikian karomah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang diberikan Allah kepadanya, sehingga Allah menunjukkan kebesaran-Nya melalui sahabat yang mulia ini.


Sambutan dari Makam Nabi SAW

Imam Fakhrurrozi Rahimahullah ketika menafsirkan surat Al-Kahfi, menceritakan, "Termasuk salah satu karomah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ialah ketika jenazah beliau sedang diusung sampai di delan pintu makam Rasulullah SAW, orang-orang yang sedang mengusungnya berkata, "Assalaamu'alaika Yaa Rasulullah, ini Abu Bakar sedang di luar pintu."

Tiba-tiba pintu makam Rasulullah SAW terbuka dan terdengar suara dari arah makam Beliau, "Masuklah orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya."

Hukum Mendirikan Masjid di Tanah Bekas Makam

Imam Bukhari dalam sanadnya meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, Ra. bahwa ketika masuk waktu sholat Rasulullah Saw, melaksanakan shalat di tempat penambatan kambing. Setelah itu Rasulullah Saw, memerintahkan pembangunan masjid. Rasulullah Saw, kemudian memanggil para tokoh Bani Najjar dan berkata kepada mereka "wahai bani Najar, berapa harga tanah kalian ini?" Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak menghendaki harganya kecuali dari Allah SWT.." Selanjutnya sahabat Anas bin Malik mengatakan "di tanah itu terdapat beberapa kuburan kaum musyrikin, puing-puing bangunan tua, dan beberapa pohon kurma. Rasulullah Saw, kemudian memerintahkan agar kuburan tersebut dipindahkan, pohon-pohonnya ditebang, dan puing-puingnya diratakan." Sahabat Anas bin Malik melanjutkan " mereka kemudian menata batang-batang kurma itu sebagai masjid" sambil merampungkan pembangunan masjid bersama mereka, Rasulullah Saw, mengucapkan do'a

"Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan Muhajirin"


Imam Nawawi memberi mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa memindahkan kuburan usang adalah boleh, jika tanah yang bercampur dengan darah daging mayat telah dibersihkan, dibolehkan shalat diatas tanah tersebut atau menjadikannya sebagai masjid. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tanah kuburan yang sudah usang boleh dijual dan tetap menjadi harta pemiliknya serta merupakan harta warisan bagi para ahli waris selama belum diwakafkan. Para ulama Sirah menegaskan bahwa kuburan yang ada di kebun tersebut adalah kuburan lama yang sudah usang sehingga tidak mungkin masih ada darah dan nanah mayat yang tertinggal. Sekalipun demikian, tetap diperintahkan agar digali dan dibersihkan semua sisa yang ada.




Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthi berkata, "dibolehkan memindahkan kuburan usang dan menjadikannya sebagai masjid jika tanah tersebut tidak berstatus sebagai tanah wakaf. Jika tanah tersebut berstatus sebagai tanah wakaf, tidak boleh diubah peruntukannya kepada selain dari bunyi wakaf tersebut"


Wallahu a'lam

Badan Otonom

Muslimat NU
Read More
GP Ansor
Read More
Fatayat NU
Read More
IPNU
Read More
IPPNU
Read More
PMII
Read More
Jatman
Read More
JQH NU
Read More
ISNU
Read More
PSNU PN
Read More

Lembaga

LP Ma'arif NU
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama
RMINU
Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama
LBMNU
Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama
LESBUMI
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia
LAZISNU
Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama
LTNNU
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama
LAKPESDAM
Kajian Pengembangan Sumber daya
LDNU
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
LPBINU
Penanggulangan Bencana Perubahan Iklim
LTMNU
Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama
LKKNU
Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama
LFNU
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama
LPBHNU
Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama
LPNU
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama
LPPNU
Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama
LKNU
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama
LPTNU
Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama
LTN NU
Lembaga Infokom dan Publikasi Nahdlatul Ulama
LWPNU
Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama

Contact

Talk to us

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis)

Alamat:

Jl. Tuntang, Pandean, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur 63133

Jam Kerja:

Setiap Hari 24 Jam

Telpon:

-