Nahdlatul Ulama Kota Madiun

sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah

Youtube

Profil

Sejarah

Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Read More

Visi Misi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Pengurus

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Madiun terdiri dari 3 unsur kepengurusan, Mustasyar (Penasihat), Syuriyah (Pimpinan tertinggi), dan Tanfidziyah (Pelaksana Harian).

Read More

MWC

MWC (Majelis Wakil Cabang) merupakan kepengurusan di tingkat kecamatan, terdiri dari MWC NU Manguharjo, MWC NU Kartoharjo, dan MWC NU Taman.

Read More

Warta

Sunday, May 15, 2022

Manfaat & Khasiat Terong Belanda, Dari Panas Dalam Hingga Maag

Manfaat & Khasiat Terong Belanda, Dari Panas Dalam Hingga Maag

Walaupun memiliki nama terong, namun demikian buah yang satu ini sama sekali tidak memiliki bentuk dan rasa yang sama seperti manfaat terong lainnya. Namun demikian, sesuai namanya, buah ini disebut terong belanda karena dibawa dan dikenalkan oleh orang Belanda. Masyarakat kita kala itu mengenalnya dengan istilah terong belanda. 

Terong belanda memiliki bentuk seperti buah sawo, berukuran kecil dan biasanya berwarna merah keunguan. Salah satu ciri utama dari buah ini adalah dapat dikenali melalui baunya yang unik dan berbeda dengan buah lainnya. Tekstur daging buahnya mirip dengan tomat, cita rasanya nikmat dan mirip dengan gabungan rasa antara kiwi, tomat, serta markisa. Selain itu terong belanda ini juga memiliki rasa yang asam, dan biasanya jarang dikonsumsi langsung. Lebih sering diolah menjadi jus atau campuran dari es dan sop buah.

 

KHASIAT DAN MANFAAT

Terong belanda ini mengandung banyak manfaat dan khasiat. Berikut ini adalah manfaat terong belanda:

-          Dapat Menyegarkan Tubuh

Terong belanda memiliki rasa yang asam dan mungkin agak sedikit kecut. Rasa asam ini dapat membantu anda dalam menyegarkan tubuh, sehingga tubuh yang terasa lelah dan mengantuk dapat segar secara instant setelah mengkonsumsi jus buah terong belanda.

-          Meningkatkan Imunitas

Khasiat terong belanda sangat baik bagi daya tahan tubuh. Hal ini disebabkan oleh beberapa kandungan vitamin C yang terkandung di dalam buah terong belanda itu sendiri.

-          Mencegah Munculnya Kanker

Kandungan zat lycopene (likopen) dalam buah terong belanda ini memiliki fungsi sebagai penangkal radikal bebas, yang merupakan salah satu penyebab munculnya sel kanker pada tubuh kita.

-          Memperbaiki Sel DNA

Terong belanda ini ialah dapat memperbaik sel-sel DNA yang rusak. Sel-sel DNA dapat diperbaiki dan dapat berfungsi dengan normal lagi salah satunya dengan bantuan dari terong belanda tersebut.

-          Sebagai Antioksidan

Terong belanda juga memiliki kandungan manfaat antioksidan yang tinggi, dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Antioksidan, selain bermanfaat dalam menangkal radikal bebas yang menyerang tubuh.

-          Menjaga Kesehatan Mata

Manfaat berikutnya dari terong belanda ialah mampu menjaga kesehatan mata anda. Hal ini disebabkan oleh kandungan vitamin A yang ada pada buah terong belanda.

-          Menyembuhkan Sariawan

Kandungan vitamin C yang ada pada terong belanda mampu membantu proses penyembuhan sariawan yang anda alami. Selain itu, vitamin C yang terkandung dalam khasiat terong belanda juga dapat mencegah munculnya sariawan pada rongga mulut.

-          Meredakan Panas Dalam

Ketika mengalami panas dalam, anda dapat meminum jus buah terong belanda untuk meredakan panas dalam yang anda alami agar tidak menyiksa anda.

-          Melancarkan Pencernaan

Proses pencernaan yang kurang lancar, seperti sembelit, diare dan gangguan pencernaan lainnya dapat teratasi dan berkurang gejalanya ketika anda mengkonsumsi jus buah terong belanda. Hal ini dikarenakan kandungan serat dari buah terong belanda yang cukup tinggi.

-          Mengobati Penyakit Maag

Jus terong belanda dapat menjadi pilihan yang bijak dalam meredakan sakit maag yang anda alami. Hal ini dikarenakan kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada manfaat terong belanda, sehingga dapat membantu mengurangi gejala sakit maag yang dialami serta mencegah kambuh kembali.

-          Mencegah Anemia

Kandungan gizi penting lainnya yang ada pada buah terong belanda ialah kandungan zat besi. Manfaat zat besi ini memiliki peranan penting dalam mencegah anemia, alias kekurangan darah, yang memiliki gejala seperti: 5L (letih, lesu, lemah, lunglai, lemas).

 

Mengkonsumsi jus terong belanda mampu membantu mengontrol detak jantung dan tekanan darah berkat kandungan kalium yang berupa senyawa elektrolit.

 (dari berbagai sumber)


Thursday, May 12, 2022

Husnul Khotimah dengan Hati Bersih

Husnul Khotimah dengan Hati Bersih

"Di antara kalian ada yang beramal dengan amal-amal sholeh surga, amal-amal baik terus sampai antara dia dan surga hanya tinggal 1 hasta lagi saja, tinggal beberapa nafas lagi dalam hidupnya didahului oleh kehendak Allah, didahului oleh ketentuan Allah, bahwa dia harus menjadi penduduk neraka, maka dia berubah amalnya menjadi amal-amal orang-orang yang jahat maka ia wafat dalam keadaan masuk neraka, diantara kalian ada orang-orang yang terus jahat sampai antara dia dengan neraka hanya tinggal 1 hasta saaj lalu dia didahului oleh ketentuan Allah untuk masuk ke dalam surga maka berbalik amal pahalanya menjadi amal-amal orang yang baik setiap perbuatannya maka ia wafat dan wafat sebagai ahli surga.” [HR. Imam Bukhori]


Para muhadditsin mensyarahkan hadits ini adalah dari sebab getaran hati, ketika hati itu berbuat yang baik-baik, pikirannya luhur maka itu akan menuntunnya kepada husnul khotimah, namun walaupun ibadahnya banyak, apabila hati itu jahat, hatinya terus menghina orang, hatinya terus sombong pada orang lain, hatinya terus membenci orang lain, hatinya terus mencela orang lain, bisa saja di akhir Allah melihat orang ini tidak pantas masuk ke dalam surga, maka Allah balikkan dengan ketentuan-Nya.


Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh Allah itu kata Rasul SAW tidak melihat pada perbuatan dan bentuk kalian tapi melihat kalian pada niat perbuatan itu, dan melihat apa yang ada pada sanubari kalian, yang kalian fikirkan.”


Saat seseorang bertakbir “Allahu Akbar” hatinya kosong, dia mendapat pahala, namun ketika bertakbir “Allahu Akbar” 1 kali dengan ucapan penuh kerinduan kepada Allah, jauh beribu kali lebih indah daripada orang yang mengucapkannya yang sama dengan niat yang berbeda.


Maka jagalah hati dan sanubari, dalam niat-niat dan cita-cita, selalulah bercita-cita dengan hal-hal yang luhur, maka Allah akan melimpahkan keluhuran.


Diriwayatkan di dalam Adabul Mufrod oleh Imam Bukhori bahwa salah satu seorang sahabat, ketika Rasulullah SAW wafat, Beliau bersabda: “Wahai Allah, ambil mataku, butakan penglihatanku, aku tidak mau melihat lagi apa-apa setelah wafatnya Nabi SAW, jangan sampai mataku melihat lagi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.” Maka ia dibuatakan oleh Allah, para sahabat berdatangan kepadanya, bersilaturrahmi kepadanya karena dia buta, berkata para sahabat: “Kenapa engkau buta?” Ia berkata: “Aku tidak mau lagi melihat apapun kalau tidak lagi lihat wajah Nabi SAW, tidak bisa digantikan dengan kijang-kijang indah dari Yaman atau pemandangan-pemandangan lainnya, tidak bisa digantikan oleh wajah indahnya Nabi SAW, aku tidak butuh mataku lagi biar saja buta kalau tidak lagi memandang wajah Nabi Muhammad SAW.” Demikian indahnya hati mereka para sahabat Rasul, cinta mereka kepada Rasulullah SAW.


Diriwayatkan seorang ibu-ibu tua lanjut usia, ketika Sayyidina Umar bin Khaththab RA lewat, Kholifah di masa lalu, pemimpin di masa lalu malam tidak tidur, keliling ke rumah-rumah fuqoro, keliling ke rumah-rumah dhu’afa, ke rumah-rumah orang susah, ke rumah anak yatim barangkali ada rintihan tangis, barangkali ada yang kelaparan, barangkali ada yang kebutuhan maka dia lewat, rumah-rumah itu diketahui, satu rumah dilewati Sayyidina Umar bin Khaththab tahu di situ ada seorang ibu-ibu lanjut usia yang sendiri sebatang kara tidak ada orang bersamanya dilewati oleh Sayyidina Umar bin Khaththab mau dilihat apakah pelitanya hidup atau barangkali perlu dibantu untuk menghidupkan pelitanya, Sayyidina Umar bin Khaththab, maka di malam hari itu ia mendengar senandung doa munajat dan tangis dari ibu tua itu, maka Sayyidina Umar bin Khaththab mendekatkan telinganya, “jangan-jangan ibu-ibu ini lapar, kurang makanannya, aku harus membantunya.”


Maka ia mendekatkan telinganya apa yang dirintihkan ibu itu, ternyata ibu itu sedang berdoa: “Wahai Allah kau telah pisahkan aku dari Nabi Muhammad di dunia, jangan pisahkan lagi aku dengan Muhammad di akhirat, di dunia sudah kau buat Rosul wafat sebelumku, jangan sampai di akhirat aku tidak jumpa lagi.”


Jatuh roboh Sayyidina Umar bin Khaththab mendengar ibu itu, hingga tidak bisa lututnya menahan tubuhnya, dia jatuh berlutut dan menangis dari rindunya kepada Rasulullah SAW dan dari harunya atas doa ibu yang sudah lanjut usia itu yang masih terus sedih dengan wafatnya Nabi SAW.


WALLOOHU A'LAM BISH SHOWAABl

Wednesday, May 11, 2022

Qodho’ Hutang Sholat dan Puasa Bertahun-Tahun

Qodho’ Hutang Sholat dan Puasa Bertahun-Tahun

Q: Assalaamu’alaikum wr wb. Ada seorang Islam waktu mudanya malas beribadah. Sholat tapi banyak bolongnya. Puasa tapi puasanya tidak pernah genap satu bulan. Sekarang dia betul-betul ingin bertaubat dengan cara setiap sholat wajib selalu diikuti dengan sholat qodho’. Begitu pula puasanya setiap bulan sering melakukan puasa qodho’. Apakah hal ini sudah betul? Kalau belum betul bagaimana solusinya hutang yang sudah bertahun-tahun terlupakan itu? Begitupula jumlah bilangannya?



A: Wa’alaikumussalaam wr wb. Sholat merupakan kewajiban bagi ummat Islam. Oleh karena itu sangat tidak layak bagi setiap muslim mengabaikannya dalam keadaan apapun.


Sholat termasuk ibadah formal (muqoyyadah) yang telah ditentukan waktu pelaksanaannya. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 103: “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” Tidak sah menjalankan sholat sebelum waktunya tiba. Dilarang meninggalkan sholat tanpa udzur sampai waktunya habis.


Menjalankan sholat pada waktunya dinamakan ada’. Kebalikannyan adalah qodho’ yaitu mengerjakan sholat di luar waktunya. Mengqodho’ sholat wajib hukumnya, baik meninggalkan karena ada udzur atau tidak. Hanya saja, jika ada udzur, pelakunya tidak berdosa. Perintah mengqodho’ didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa lupa tidak mengerjakan sholat maka dia harus melakukannya (mengqodho’nya) ketika mengingatnya.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim]


Sholat yang ditinggalkan tanpa udzur wajib secepatnya diqodho’ (‘ala al-faur). Jika ada udzur sebaiknya dipercepat supaya lekas lepas dari tanggungan (baro’ah adz-dzimmah). Hal ini sebagaimana dianut oleh Madzhab Syafi’i. kewajiban mengqodho’ sholat tetap berlaku sampai kapan pun. Ini artinya, sholat yang ditinggalkan selama bertahun-tahun masih tetap menjadi tanggunga. Jenis dan jumlah sholat yang diqodho’ disesuaikan dengan jumlah dan jenis yang ditinggalkan. Oleh karena itu, harus diketahui terlebih dahulu, apakah sholat yang ditinggalkan itu dzhuhur, ashar, maghrib, isya’ atau shubuh dan berapa kali terjadi.


Kalau tidak diketahui secara pasti jumlah sholat yang ditinggalkan ada tiga pendapat. Pertama, mengqodho’ sholat kecuali yang diyakini telah dikerjakan. Kedua, mengqodho’ sholat yang diyakini belum dikerjakan. Ketiga, menggunakan pendapat pertama bagi orang yang meninggalkan, dan pendapat kedua jika jarang melalaikan sholat. [al-Fiqh Al-Islami, 1161, juga Qolyubi: I, 118]


Sebagai wujud kehati-hatian dalam beragama (al-ihtiyah), sebaiknya kita memilih pendapat pertama. Ia adalah pendapat terkuat dan sejalan dengan salah satu kaidah fiqih, al-ashl al-‘adam (hukum asal yang dipakai adalah belum dilakukan). Kalau seseorang meyakini telah meninggalkan sholat tetapi lupa jenisnya, apakah dzhuhur atau lainnya, maka ia harus mengqodho’ sholat fardhu lima waktu secara keseluruhan. Hanya dengan begitu, ia dipastikan telah mengqodho’ sholat yang pernah ditinggalkan.


Mengqodho’ dapat dilakukan kapan saja. Mengingat Anda melakukannya dengan sengaja, tanpa udzur, maka Anda harus mengqodho’ sholat fardhu lima waktu secara keseluruhan. Hanya dengan begitu, dipastikan Anda telah mengqodho’ sholat yang pernah ditinggalkan. Mengingat Anda meninggalkannya dengan sengaja, tanpa udzur maka Anda harus mengqodho’ secepatnya. Jangan sampai ditunda-tunda lagi. Mengqodho’ sholat secepat mungkin hukumnya wajib. Sebuah kewajiban tidak bisa ditinggalkan kecuali untuk melakukan kewajiban yang lain. Menurut Madzhab Syafi’i, mengqodho sholat dalam jumlah banyak tidak diwajibkan secara berurutan. Artinya mengqodho Ashar, lalu Dzhuhur, disusul Isya’ misalnya. Namun lebih baik berurutan karena hukumnya sunnah. [Mughni Al-Muhtaj: I, 127]


Perlu diingat, bahwa selain mengqodho’, Anda harus bertobat atas kesalahan Anda. Mengqodho’ justru merupakan bagian dari tobat. Tobat adalah meninggalkan perbuatan yang dilarang syara’, menyesalinya dan bertepatan hati tidak mengulanginya pada masa mendatang.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB

Sunday, May 8, 2022

Kebingungan Qabil Setelah Membunuh Habil

Kebingungan Qabil Setelah Membunuh Habil

Terjadilah peristiwa itu. Suatu hari tangan Qabil berlumuran darah saudaranya sendiri. Ia telah membunuhnya. Habil kembali kepada Tuhannya. Beberapa hari Nabi Adam AS tidak melihat Habil. Sang ayah merasa khawatir sesuatu telah menimpanya. Ia pun bertanya kepada Qabil, “Di mana saudaramu, Habil?”. Qabil menjawab dengan cueknya, “Aku bukanlah wakil dia. Bukan penjaga dia dan bukan juga perawat dia.”

 




Nabi Adam AS akhirnya mengetahui bahwa putranya telah dibunuh. Nabi Adam  AS terdiam penuh gejolak. Namun Nabi Adam AS mampu menahan gejolak tersebut meskipun dengan perih pilu atas hilangnya orang yang ia cintai. Nabi Adam AS melantunkan syair duka-citanya.

 

Aku berkata dalam diri penuh penyesalan dan duka nestapa. Salah satu putraku dibunuh dan tidak akan pernah kembali lagi.

 

Habil adalah orang pertama yang dibunuh di muka bumi ini. Qabil bingung tidak mengetahui bagamaina cara mengurus jenazah saudaranya. Dipikullah saudaranya mondar-mandir di atas pundaknya. Qabil didera ketakutan dan kegelisahan, berhari-hari. Hingga bau tidak sedap mulai tercium dari tubuh jenazah saudaranya. Qabil telah capek memikulnya. Qabil tidak tahu harus berbuat apa.

 

Sampai di sini, kasih sayang Allah SWT terhadap tubuh jenazah suci itu mau tidak mau turun. Sebagai sunnah bagi ketentuan makhluk. Sekaligus sebagai penjagaan terhadap kemuliaan Nabi Adam AS dan putranya. Di sini juga, wajib ada pelajaran berharga bagi orang yang dipenuhi dendan kesumat. Akan tetapi dia bukanlah orang yang pantas menerima wahyu Allah SWT juga bukan ilham-Nya. Bahkan ia harus menjadi murid dari burung gagak. Pengetahuannya baru muncul ketika melihat seekor hewan hitam yang lemah. Keegoannya baru luluh atas peristiwa yang dilihatnya.

 

Sebagian ulama menceritakan bahwa setelah Qabil membunuh Habil, ia pun memanggulnya. Dan it terus ia lakukan hingga Allah mengirim dua ekor burung gagak. Kedua burung gagakitu bertarung , lalu salah satunya berhasil membunuh yang lainnya. Setelah membunuhnya, ia turun ke bumi, menggali tanah, lalu mencampakkan (bangkainya), mengubur, serta menimbunnya.

 

Disebutkan dalam Al-Qur’an, “Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” [QS. Al-Ma’idah: 31]

Saturday, May 7, 2022

Cuka Disukai Oleh Para Nabi

Cuka Disukai Oleh Para Nabi

Rasulullah SAW bersabda, “Dari Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa Nabi SAW meminta lauk kepada istrinya, lalu mereka menjawab: “Kita tidak punya apa-apa selain cuka.” Beliau menyuruh diambilkan (cuka itu), lalu Beliau makan dengan cuka tersebut sambil bersabda: “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” [HR. Imam Muslim]


Selama ini banyak orang yang meremehkan cuka karena baunya tidak sedap. Padahal khasiat yang dikandungnya sangat besar bagi kesehatan Rasulullah SAW termasuk menyukainya. Suatu ketika Beliau mengajak Jabir bin Abdullah ke rumahnya. Tatkala telah sampai, Beliau bersabda: “Apakah ada makanan untuk makan siang atau makan malam?” Lalu Thalhah mengeluarkan potongan roti. Beliau bertanya, “Apakah ada lauknya?” Thalhah menjawab, tidak ada kecuali hanya sedikit cuka. Beliau bersabda, “Tolong bawalah ke sini, karena cuka adalah lauk yang paling baik.” Jabir berkata, “Saya menyukai cuka sejak saya mendengarnya dari Rasulullah.” Thalhah berkata, “Saya menyukai cuka sejak saya mendengar dari Jabir.” [HR. Imam Achmad]

 

Disukai Para Nabi

Ternyata cuka telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Cairan ini dihasilkan dari fermentasi buah yang kaya akan gula seperti apel, anggur merah, malt, dan beras. Karena khasiat yang dikandungnya begitu besar, cairan ini termasuk minuman yang disukai para nabi. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa, “Ya Allah berkahilah dan cuka karena ia adalah tuak para nabi sebelumku.” [HR. Ibnu Majah]

 

Menurut hasil penelitian, zat-zat yang terkandung di dalamnya dapat mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit, seperti kanker, jantung, arthritis, pengeroposan tulang, alergi, dan gangguan pencernaan. Cuka juga terbukti membantu menurunkan berat badan. Bahkan, selain sebagai campuran makanan yang melezatkan, cuka merupakan cairan pembersih dan pengawet makanan alami yang ramah lingkungan.

 

Khasiat lain yaitu sebagai obat penyakit kuning, pembersih tubuh dan mencegah penyakit bengkak-bengkak. Selain untuk kesehatan, cuka bisa digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kebersihan rumah. Misalnya membersihkan shower yang mampet, lantai kusam, hingga membersihkan kerak botol.

 

Memiliki Banyak Manfaat

Secara ilmiah, cuka terbukti memiliki banyak sekali manfaat. Sesendok cuka dapat mengurangi lemah bila dicampur dengan kuah salathoh (sejenis lalap yang biasa dimakan dengan roti), lalu disantap dengan roti. Dengan cara seperti itu cukup dapat menghilangkan lemak. Hal ini dapat terjadi karena cuka meruapakan asam asetat yang berhubungan dengan protein, lemak dan karbohidrat, atau yang biasa disebut dengan asetoasetat (acetoacetate).

 

Artinya, mengkonsumsi cuka secara teratur di dalam makanan atau salathoh, atau memasukkan cuka dengan ukuran satu sendok the (terutama cuka apel) ke dalam secangkir air dapat berkhasiat menjaga kadar lemak tubuh. Di samping itu, cuka juga dapat mengurangi potensi aterosklerosis (penimbun zat lemak di dalam dan di bawah lapisan intima dinding pembuluh nadi), karena cuka mampu mengubah zat dan pembuluh darah menjadi senyawa sederhana (non kompleks). Yakni asetoasetat yang masuk ke dalam komposisi nutrisi.

 

Ada bukti yang kuat bahwa Rasulullah SAW sering mengkonsumsi cuka dengan minyak zaitun. Pada masa paceklik, sahabat Umar bin Khatthab RA hanya mengkonsumsi minyak zaitun dan cuka, dan tidak makan daging, kecuali setelah orang-orang miskin bisa makan daging. Cuka apel merupakan cuka yang paling baik, karena di samping asam asetat sebagai bahan utamanya, cuka juga mengandung sejumlah asam organik yang biasa diperlukan tubuh dalam makanan yang sehat. Perlu diketahui juga bahwa cuka jenis ini memiliki berbagai kandungan unsur mineral yang juga diperlukan tubuh.

 

Di dalam buku tentang pengobatan tradisional karya Garvies disebutkan bahwa cuka dapat membersihkan kandung kemih. Disebutkan bahwa dengan mengonsumsi cuka dapat membersihkan cuka dapat membersihkan nanah yang terdapat dalam saluran kencing. (BaitulMaqdis.com)

Shalawat Memang Dahsyat

Shalawat Memang Dahsyat

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW memang benar-benar ibadah yang istimewa. Ada banyak keutamaan shalawat disbanding bacaan dzikir yang lain. Sayyid Ali ibn Abdullah Ibn Ali Hasan al-Haddad mengatakan: “Di dalam kitab dan sunnah keduanya penuh menyebutkan keutamaan shalawat dan salam kepada Rasulullah. 




Argumentasinya lebih popular untuk disebutkan, cukup bagi engkau untuk mengetahui kebesaran keutamaannya bahwa ibadah shalat, khutbah jum’at dan seumpamanya tidak sah tanpa dibacakan shalawat.”

 

Imam Muhammad ibn Ahmad ar-Ramly pernah ditanya: “Lebih afdhal mana antara menyibukkan diri membaca istighfar dengan membaca shalawat kepada Nabi? Atau jawabannya dikondisikan bagi orang yang banyak perbuatan taatnya, maka menyibukkan membaca shalawat lebih utama dan orang yang banyak perbuatan ma’shiatnya, maka menyibukkan diri membaca istighfar lebih utama? Kemudian Imam ar-Ramly menjawab bahwa menyibukkan diri dengan membaca shalawat kepada Nabi lebih utama daripada menyibukkan diri membaca istighfar secara mutlak.”

 

Sayyidina Abu Bakar berkata: “Membaca shalawat kepada Nabi paling dahsyat untuk memusnahkan dosa-dosa, lebih hebat daripada air dingin memadamkan api. Membaca salam kepada Nabi lebih utama daripada membebaskan budak. Cinta kepada Nabi lebih utama dari melakukan jihad dengan pedang di jalan Allah.”

 

Imam Abdullah bin Ahmad Basaudan mengutip perkataan Imam Ahmad ibn Muhammad Athaillah as-Sakandariy dalam kitab beliau Tajul Arus al-Hawiy li Tahdzib an-Nufus: “Seandainya engkau melakukan segala perbuatan taat sepanjang umurmu, kemudian Allah memberikan satu shalawat, maka satu shalawat tersebut akan mengungguli setiap bentuk perbuatan taat yang engkau lakukan sepanjang umurmu. Sesungguhnya engkau melakukan ketaatan sesuai dengan kemampuanmu, sedangkan Allah memberikan shalawat kepadamu sesuai dengan kedudukannya sebagai Tuhan. Hal ini merupakan keutamaan satu shalawat yang Allah berikan, maka bagaimana apabila Allah memberikan balasan dengan 10 shalawat bagi setiap shalawatmu. Sebagaimana datang keterangannya dalam hadits shahih. Alangkah indahnya kehidupan, apabila engkau menjadi orang yang taat kepada Allah dengan selalu berdzikir dan bershalawat kepada Nabi Muhammad.”

 

Syaikh Muhammad Nawawi ibn Umar al-Bantaniy menyebutkan sebuah riwayat: “Seandainya seorang hamba datang pada hari kiamat membawa segala kebaikan yang dilakukan penghuni dunia, tetapi tidak terdapat catatan shalawat atas Nabi dalam amalan yang banyak itu, maka ditolak dan tidak diterima.”

 

Bayangkan betapa besar harga sebuah kalimat shalawat. Apalagi jika dibaca pada waktu-waktu dan tempat-tempat yang memiliki keistimewaan. Sekali membaca shalawat serta salam atas Rasulullah, maka akan diberikan pengampunan dosa. Sekarang timbul pertanyaan di hati kita, Apakah seorang muslim cukup hanya membaca shalawat saja? Tanpa beribadah shalat? Tidak, selain bershalawat, tentunya kita harus melakukan syari’at dan ibadah yang sifatnya wajib. Shalawat akan diterima oleh Allah, jika yang membacanya itu adalah orang mukmin. Malaikat akan mencatat amalan shalawat. Yang kelak amalan itu akan mendatangkan manfaat besar kepada seseorang di dunia dan akhirat.

Wednesday, May 4, 2022

TUNTUNAN MANDI DALAM ISLAM

TUNTUNAN MANDI DALAM ISLAM

Secara umum mandi ada dua macam: mandi wajib dan mandi sunnah. Pertama, mandi wajib (mandi jinabat) yaitu: mandi yang menentukan sahnya ibadah yang mempersyaratkan kesucian, yakni manakala terjadi sebab-sebab yang mewajibkannya. Kedua, mandi sunnah mandi yang tidak harus kita lakukan sebab tidak terkait dengan sahnya ibadah, akan tetapi sebaiknya dilakukan. Dan jumlahnya sangat banyak di antaranya mandi saat mau menunaikan shalat jum’ah, memandikan orang kafir saat masuk Islam, mandi saat mau melakukan ibadah ihram, mandi saat mau masuk kota Makkah, mandi dua hari raya Idul Fitri dan sebagainya.



 

DEFINISI MANDI WAJIB DAN DASARNYA

Dalam bahasa arab mandi disebut juga ghusl. Ghusl sendiri secara etimologi berarti mengalirkan. Sementara secara istilah, ghusl adalah mengalirkan air ke seluruh tubuh dengan niat tertentu. Adapun dasarnya mandi wajib adalah firman Allah SWT, “Dan jika kamu junub. Maka mandilah” [QS. Al Maidah:6] dan “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri Masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi” [QS. An-Nisa:43]

 

FARDLUNYA MANDI

Pertama, Niat (Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhal lillahi ta’ala). Kedua, bila ada najis pada tubuh, membasuhnya bisa berbarengan dengan mandi wajib. Artinya membersihkan najis boleh disatukan dengan mandi wajib. Ketiga, meratakan air ke seluruh anggota badan yang zahir (terlihat) termasuk semua lipatan badan. Meliputi kulit, rambut dan bulu yang ada di badan, sama bulu-bulu yang jarang ataupun lebat.

 

HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI

Adapun di dalam Islam terdapat sebab harus mandi wajib untuk setiap ummatnya. Sebab-sebab diharuskan mandi wajib itu sendiri antara lain:

Pertama, mandi wajib karena bersetubuh, maksudnya bertemunya 2 (dua) kemaluan antara laki-laki dan perempuan baik keluarnya mania tau pun tidak sudah harus dilakukan mandi wajib untuk kedua orang tersebut. Kedua, mandi wajib keluar mani, hal tersebut berlaku untuk laki-laki maupun untuk perempuan jika mereka keluar cairan mani akibat syahwat dan mimpi basah maka diwajibkan untuk keduanya untuk melakukan mandi wajib atau junub.

 

Ketiga, selesai haid atau menstruasi. Haid ialah darah kotor yang sering dialami oleh semua perempuan setiap bulannya dan haid merupakan najis karena keluarnya darah dari tubuh sehingga sangat diharuskan jika seorang perempuan setelah selesai haid untuk mengerjakan mandi wajib atau junub ini. Keempat, setelah nifas atau melahirkan, maksudnya ialah seorang wanita yang telah selesai masa nifas atau darah yang keluar pada saat persalinan atau melahirkan. Maka perempuan tersebut diwajibkan untuk mandi wajib.

 

Kelima, sesudah melahirkan, sebab pada umumnya orang yang melahirkan itu juga mengeluarkan darah. Keenam, orang meninggal dunia, apabila seorang Muslim yang telah meninggal maka orang-orang yang di sekitarnya wajib untuk memandikan jenazah seorang Muslim tersebut.

 

KESUNNAHAN-KESUNNAHAN MANDI

Mandi wajib sudah sah jika sudah memenuhi syarat dan rukun seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Namun agar lebih sempurna, sebaiknya kita juga melakukan beberapa hal sunnah berikut ini: Membaca Bismillah, berwudhu terlebih dahulu, mengusap-usap tangan pada badan saat mandi, mendahulukan bagian badan yang sebelah kanan, berturut-turut (muwalah).

Tuesday, May 3, 2022

Waspadai Kebangkrutan di Akhirat

Waspadai Kebangkrutan di Akhirat

Telah berkata kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Ali bin Hujr, mereka berdua berkata: “Telah berkata kepada kami Ismail (yaitu Ibnu Ja’far), dari Al ‘Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, bahwasanya suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda.”



 

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Orang yang bangkrut dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakatnya dan pahala hajinya, tapi ketika hidup di dunia dia mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti terhadap orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada orang yang didzaliminya. Semuanya dia bayarkan sampai tidak ada yang tersisa lagi pahala amal sholehnya. Tetapi orang yang mengadu ternyata masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu. Dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka. Kata Rasulullah selanjutnya, “Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.” [HR. Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Achmad dan lainnya]

 

Ibadah puasa, zakat, haji (umrah), shalat dan berbagai ibadah yang kita lakukan serta taubat kita bisa menghapus dosa-dosa kita, tapi tidak semua dosa. Kenapa? Karena ibadah dan taubat itu hanya bisa menghapus dosa kita kepada Allah SWT dan belum bisa menghapus dosa kita kepada sesama manusia. Lalu bagaimana kita menghapus dosa kita kepada sesama manusia? Tentu kita harus minta maaf akan kesalahan kita kepada orang yang kita dzalimi.

 

Begitu pun hutang, apabila sampai ajal kita hutang kita kepada orang lain ada yang belum terbayar, maka itu bisa menjadi ganjalan kita di akhirat.

 

Lalu dijelaskan bahwa apabila sampai ajal kita tiba kita belum sempat minta maaf pada orang yang kita dzalimi atau pun belum sempat membayar hutang kita, maka di akhirat kita harus membayar itu semua. Lalu denga apa kita harus membayar itu pada saudara kita yang kita dzalimi atau hutangi? Tentu tak bisa lagi dengan harta, karena kita mati tidak membawa harta sepeser pun. Ya, kita hanya membawa amal baik dan amal buruk kita di akhirat.

 

“Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf)nya sekarang juga sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” [HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim]

 

Kedzaliman dan hutang kita, akan kita bayar ke saudara kita dengan amal baik yang kita punya. Semakin banyak kedzaliman dan hutang kita yang belum dimaafkan atau kita bayarkan ke saudara kita, semakin banyak amal kita yang kita berikan ke saudara kita. Dan inilah yang bisa menjadikan seseorang itu bangkrut di akhirat.

Monday, May 2, 2022

Tiga Macam Manusia Menyikapi Kepergian Ramadhan

Tiga Macam Manusia Menyikapi Kepergian Ramadhan

Manusia dalam menyambut bulan Ramadhan ada tiga macam. Pertama, orang yang antusias dengan rasa bahagia menyambut datang bulan Ramadhan. Mereka adalah orang mukmin yang sempurna imannya. Mereka senantiasa rindu dengan datangnya bulan Ramadhan sebagaimana Baginda Nabi Muhammad SAW mulai bulan Rajab sudah rindu pada bulan Ramadhan dimana Beliau senantiasa berdoa: “Allahumma bariklana fii rajaba wa sya’bana wa ballighnaa Ramadhan.” Ini tiada lain karena rindunya Beliau kepada bulan Ramadhan. Dan siapapun yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan maka balasannya sungguh luar biasa. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya untuk disentuh oleh api neraka.”



Kedua, orang yang biasa saja dalam menyambut bulan Ramadhan. Mereka tidak mempunyai antusias oleh Rasulullah SAW, “Seandainya kamu semua mengetahui apa yang ada di dalam bulan Ramadhan maka kamu semua akan meminta dan berharap agar selama setahun penuh semuanya bulan Ramadhan.”


Ada sebagian orang non Muslim sampai berkata, “Kenapa bulan Ramadhan itu hanya satu bulan saja?” Sebab, selama bulan Ramadhan dagangannya laris terjual. Artinya orang non muslim pun merasakan nikmat keberkahan bulan Ramadhan. Oleh karena itu orang yang kedua ini perlu kita kenalkan dengan bulan Ramadhan yang mana awalnya Rahmah, pertengahannya ampunan Allah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.


Jangankan kita, Nabi Musa AS pun yang sudah tinggi derajatnya meminta dan berharap kepada Allah SWT agar bisa merasakan nikmat bulan Ramadhan hingga beliau berkata, “Allahumma I’jalni min ummati Muhammad.” Jadi, orang macam yang kedua ini harus kita kenalkan lebih jauh dengan bulan Ramadhan agar mereka senantiasa merindukan dan gembira dengan datangnya bulan Ramadhan.


Ketiga, orang yang benci dan sedih saat memasuki bulan Ramadhan. Dan yang ketiga ini adalah hatinya orang-orang yang munafiq. Oleh karena itu, kalau di dalam hati kita ada perasaan, seperti itu maka di dalam hati kita ada sifat kemunafikan.


Nah, golongan yang pertama tentu akan merasa sedih saat bulan akan meninggalkannya. Sedangkan golongan yang kedua juga tetap biasa dengan perginya bulan Ramadhan. Sebab mereka jarang berpuasa dan jarang melaksanakan sholat tarowih. Adapun golongan yang ketiga tentu akan merasa senang dengan perginya bulan Ramadhan. Dan golongan yang ketiga ini diingatkan oleh ulama, “Orang yang senantiasa b berharap agar bulan Ramadhan segera pergi maka termasuk orang yang melakukan dosa besar”. Kenapa demikian? Sebab mereka lari dari Rahmatnya Allah SWT. Na’udzubillah.

Thursday, April 21, 2022

Bagaimana Ketentuan Zakat Bayi

Bagaimana Ketentuan Zakat Bayi

Q: Assalamualaikum wr. wb. Apakah benar kalau ada anak yang dilahirkan pada waktu Maghrib pada tanggal satu Syawal itu tidak wajib zakat fitrah? Tolong berikan penjelasan kepada kami. Terimakasih.



A: Wa 'alaikumussalaam wr. wb. Dalam kitab I'anatuth Tholibin dijelaskan bahwa zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu karena menjumpai bulan Ramadhan dan bulan Syawal. Zakat fitrah ini termasuk keistimewaan bagi ummat Nabi Muhammad SAW yang diwajibkan pada tahun kedua setelah hijrah.


Perlu kita ketahui bahwa syarat wajib zakat fitrah itu ada tiga macam. Pertama, beragama Islam. Kedua, menjumpai akhir bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal. Bagi orang yang meninggal sebelum matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan maka tidak wajib membayar terbenam pada akhir bulan Ramadhan maka tidak wajib membayar zakat fitrah, begitu pula bagi anak yang terlahir setelah matahari terbenam. Ketiga, mempunyai makanan, harta atau nilai uang yang melebihi, kebutuhan selama sehari semalam pada hari raya Idul Fitri, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk keluarganya.


Ukuran melebihi di sini tidak mencakup kebutuhan pokok manusia seperti rumah, baju, atau makanan. Sehingga apabila seseorang pada hari raya Idul Fitri tidak mempunyai kelebihan maka tidak wajib baginya membayar zakat. Demikian uraian dari berbagai kitab fiqh diantaranya kitab Nihayatuz Zain, Hasyiyah Asy Syarqawi dan sebagainya. Jadi, pertanyaan saudara itu benar, bahwa anak tersebut tidak wajib untuk dizakati sebab tidak menjumpai bagian dari bulan Ramadhan.


Dan dalam membayar zakat itu ada beberapa ketentuan, yakni zakat harus berupa makanan pokok yang berlaku umum di lingkungan, misalnya beras. Jika dalam satu lingkungan terdapat dua makanan pokok atau lebih maka yang dipilih adalah yang paling banyak dikonsumsi. Ini adalah pendapat Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain.

Wednesday, April 20, 2022

Apakah Puasa Tidak Sah, Jika Lupa Membayar Zakat Fitrah

Apakah Puasa Tidak Sah, Jika Lupa Membayar Zakat Fitrah

Q: Assalamualaikum wr. wb. Saya mau tanya, bagaimana hukum puasanya orang yang lupa mengeluarkan zakat fitrah, apakah puasanya tidak diterima? Atau ads kafaratnya? Terimakasih atas penjelasannya.




A: Wa 'alaikumussalaam wr. wb. Zakat fitrah itu hukumnya wajib atas setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, besar atau kecil, merdeka atau hamba, yang telah memenuhi syarat wajibnya. Allah SWT berfirman: "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." [QS. Al-Baqarah: 43]


Rasulullah SAW bersabda, "Islam didirikan atas lima dasar; penyaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji, menunaikan puasa." [HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim]. Jadi, wajibnya zakat itu berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits.


Penyerahan zakat fitrah dalam waktu-waktu sebagai berikut. Pertama, waktu jawaz, yakni hari-hari awal bulan Ramadhan. Kedua, wajib, yakni semenjak matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan sampai sebelum dilaksanakan shalat Idul Fitri. Ketiga, waktu sunnah, yakni sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Keempat, waktu makruh, yakni mulai setelah dilaksanakannya shalat Idul Fitri sampai matahari terbenam. Kelima, waktu haram, yakni setelah terbenamnya matahari pada hari Idul Fitri. 


Jadi, zakat fitrah itu memang ada waktunya. Kalau seseorang lupa untuk mengeluarkan zakat fitrah, maka harus diganti di waktu ia ingat.


Berbeda dengan zakat mal yang pembayarannya bisa dilakukan kapan saja. Misalnya sekarang waktunya harus mengeluarkan zakat mal, lalu telat atau lupa maka besok lusa boleh dan dihukumi sah. Karena zakat fitrah itu ada waktunya maka harus mengganti zakat fitrah pada tahun berikutnya.


Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat kita ambil sebuah kesimpulan kalau orang yang tidak mengeluarkan zakat fitrah puasanya tetap sah. Sebab tidak semua orang itu wajib membayar zakat fitrah, hanya mereka saja yang memenuhi syarat mengeluarkan zakat. Kalau tidak zakatnya itu sebab lupa maka tidak berdosa sebab lupa itu tidak berdosa.


Hanya permasalahannya apa yang menyebabkan dia sampai lupa tidak menunaikan zakat, mungkin dia memang kurang begitu memperhatikan syari'at Islam, maka dia berdosa sebab kurang memperhatikan dan menghiraukan syari'at agama Islam. Seharusnya kita sebagai ummat Islam senantiasa memperhatikan ajaran agama Islam misalnya sholat, puasa, zakat dan sebagainya.

Tuesday, April 19, 2022

Menstruasi Di Akhir Ramadhan

Menstruasi Di Akhir Ramadhan

Q: Assalamualaikum wr. wb. Apa yang harus dilakukan orang yang menstruasi (haidh) di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan supaya tetap berkesempatan mendapatkan Lailatul Qadar? Terimakasih atas jawabannya.



A: Wa 'alaikumussalaam wr. wb. Memang ketika wanita mengalami haidh/menstruasi ada beberapa larangan. Di antaranya adalah tidak boleh mengerjakan sholat, menjalankan puasa, membaca Al-Qur'an, menyentuh dan membawa Al-Qur'an, masuk masjid dan sebagainya. [At-Tadzhib]


Kemudian bagaimana kalau menstruasi atau haidh itu datangnya saat di akhir Ramadhan? Di mana pada hari-hari itu menurut beberapa riwayat akan turun malam yang sangat dinanti oleh kaum muslimin yakni Lailatul Qadar. Berdasarkan hal ini seakan-akan para yang sedang mengalami haidh atau menstruasi tertinggal jauh dengan para laki-laki dalam hal mendapatkan pahala di akhir bulan Ramadhan, lantas bagaimana syariat agama Islam memandangnya.


Dalam hal ini intinya adalah beramal sholeh. Dan amal sholeh itu sangat beragam, di antaranya mengikuti perintah syariat Islam yakni saudari tidak menjalankan puasa itu termasuk amal sholeh, saudari tidak menyentuh dan membawa Al-Qur'an itu juga amal sholeh, saudari tidak berhubungan suami istri sebab menstruasi itu juga termasuk amal sholeh dan sebagainya.


Di samping itu saudari juga tetap melakukan aktivitas keluarga misalnya membantu dan melayani suami, merawat dan mendidik anak itu juga termasuk amal saleh, saudari banyak bersedekah juga termasuk amal saleh, saudari banyak membaca dzikir dan bersholawat juga termasuk amal saleh dan seterusnya. Intinya lakukan apapun yang telah diizinkan oleh syariat agama karena hal itu amal baik.

Monday, April 18, 2022

Malam Utama Bonus Pahala

Malam Utama Bonus Pahala

Ramadhan adalah bulan yang fenomenal penuh keajaiban, penuh kemuliaan, dan banyak rahasia ilahi yang terpendam di dalamnya bagi ummat Rasulullah SAW yang menghiasai siang hari mereka dengan berpuasa dan menghidupkan malam-malam mereka dengan beribadah. Dari banyak keutamaan di bulan ini tentu saja yang tidak asing bagi kita adalah turunnya malam lailatul qadr, atau yang kita kenal dengan malam seribu bulan. Di mana apabila seseorang beribadah di malam tersebut akan mendapatkan keutamaan seakan ia beribadah selama seribu bulan.




Bayangkan, jika seorang mendapatkan malam tersebut maka seakan ia telah melaksanakan shalat, mengaji, bersedekah, berangkat haji dan umroh, mencari ilmu, berbakti kepada kedua orang tuanya, berbuat baik kepada tetangga, dan ibadah-ibadah yang lain selama 1000 bulan atau sekitar 83 tahun lebih 4 bulan. Belum lagi jika seorang mendapati dirinya 12 kali menggapai lailatul qadr maka sama saja ia berumur 1000 tahun yang hanya dipergunakan untuk ibadah, subhanallah! 


Apa yang menjadikan Allah SWT menurunkan seperti ini kepada ummat ini? Sedang ummat terdahulu tidak mendapatkannya? Jawabannya adalah Rasulullah SAW. Ya, beliaulah yang meminta kepada Allah SWT agar ummatnya diberi kemudahan agar mendapat pahala besar dengan amal yang sedikit. Nabi SAW prihatin ketika mengetahui jatah umur yang diberikan Allah SWT kepada ummatnya yang berkisar rata-rata antara 60-70 tahun. Beliau cemas jika ummatnya akan kalah dalam mencari pundi-pundi pahala dibanding dengan ummat lain, mengingat banyak dari ummat terdahulu yang berumur panjang hingga lebih dari 1000 tahun. 


Beliau SAW senantiasa menginginkan kita untuk jadi ummat yang nomor wahid. Maka Allah SWT mengabulkan permintaan sang kekasih, diberikanlah untuk ummat ini malam Lailatul Qadr, malam grand bonus pahala bagi pelaku ibadah di bulan Ramadhan. Turunnya malam ini sengaja tidak diberitahukan oleh Allah SWT, tapi yang pasti ia tidak akan lebih dari 30 malam di bulan Ramadhan, hanya bagi yang menghidupkan malamnya dengan ibadah yang berhak mendapatkan keutamaan ini. 


Yang menjadi pertanyaan adalah, "Apa kadar seorang dikatakan menghidupkan malamnya dalam beribadah?" Tentu tiada batasan paling tinggi untuk menghidupkan malam dalam beribadah, seorang waliyullah bisa saja shalat sunnah 1000 rakaat seperti Imam Ali Zainal Abidin, atau membaca 50.000 shalawat seperti Imam Al-Haddad setiap malamnya, akan tetapi tidak semua orang diberi kelebihan seperti beliau-beliau ini, maka bagi kita yang masih awam, apa kadar terendah bagi seorang untuk dikatakan menghidupkan malam? Untuk ini lagi-lagi Baginda Nabi Muhammad SAW memberikan tips terbaik kepada kita, beliau SAW bersabda, "Barangsiapa yang shalat Isya' berjama'ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjama'ah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya." [HR. Imam Muslim]


Subhanallah, inilah kunci jawaban dari Nabi SAW, yang jika diambil kesimpulanjik adalah jika seorang shalat Isya' dan Shubuh secara berjama'ah di bulan Ramadhan maka ia terhitung telah menghidupkan seluruh malam di bulan suci ini, maka malam keberapapun malam Lailatul Qadr turun insyaAllah akan digapai dengan penuh barokah. 


Ya, shalat Isya' dan Shubuh berjama'ah! Sungguh indah tutur katamu wahai Rasul, Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad. Saudaraku sesama muslim, tentu saja jika disempurnakan dengan bacaan Al-Qur'an, shalat Tarawih dan witir, tahajjud dan amalan-amalan sholeh yang lain akan semakin menyempurnakan malam-malam tersebut. Saudaraku, Allah SWT telah memberi malam penuh berkah ini, Rasulullah SAW telah menunjukkan cara termudah untuk menggapainya, maka sangatlah aib bagi kita jika kita menyia-nyiakan malam seribu bulan ini dengan berbagai bentuk kelalaian. Semoga Allah SWT memberikan kita semangat dalam beribadah, dan mempermudah kita untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr, Aamiin.

Thursday, April 7, 2022

Ramadhan Bulan Fokus Al-Qur'an

Ramadhan Bulan Fokus Al-Qur'an

Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hatinya dengan kebaikan. Dan Beliau lebih bermurah hati pada bulan Ramadhan. Dalam hadits Shohih riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim disebutkan kebaikan Nabi SAW di bulan Ramadhan mengalir.


Nabi SAW memanjangkan bacaan Al-Qur'an pada saat malam di bulan Ramadhan, lebih dari malam-malam di bulan lainnya. Ini adalah sesuatu yang disyariatkan. Bagi mereka yang ingin memanjangkan bacaan Al-Qur'an sesuai dengan kehendaknya, maka hendaknya ia sholat sendiri. Dan boleh juga memperpanjang bacaan dalam sholat berjamaah atas persetujuan para jama'ah.


Imam Achmad berkata kepada sebagian sahabatnya yang sholat bersamanya di bulan Ramadhan, "Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat." Imam Achmad Rahimahullah memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka. Para salafush Sholeh Rahimahullah membaca Al-Qur'an di bulan Romadhon di dalam sholat dan di luar sholat. Mereka menambah perhatian mereka terhadap Al-Qur'an yang mulia. Al-Aswad Rahimahullah mengkhatamkan Al-Qur'an setiap dua hari. An-Nakho'i mengkhatamkan ya setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir beliau tambah giat lagi. Sayyidina Qotadah mengkhatamkan Al-Qur'an setiap tujuh hari dan di sepuluh hari terakhir beliau menyelesaikannya dalam tiga hari.


Apabila bulan Ramadhan tiba, Imam Az-Zuhri mengatakan, "Bulan ini adalah bulan membaca Al-Qur'an dan memberi makan." Imam Malik apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadits dan berdiskusi bersama penuntut ilmu lainnya, beliau memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur'an dari mushafnya. Sayyidina Qotadah mempelajari Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Imam Sufyan Ats-Tsauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah dan menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur'an. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat tentang perhatian para salafush Sholeh terhadap Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Semoga ALLooh mengaruniakan kepada kita untuk mengikuti mereka dalam kebaikan. Kita memohon kepada-Nya dengan nama-Nya yang baik dan sifat-Nya yang sempurna agar menjadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hati kita, cahaya di dada-dada kita, penghibur di kala kesedihan, dan mengusir kegalauan yang kita hadapi.


Sesungguhnya perhatian terhadap Al-Qur'an dengan berbagai macam bentuknya: membaca dan menghafalnya, belajar dan mengajarkannya, mentadaburi dan memahaminya, serta mengamalkannya adalah tanda kebaikan. Semakin ummat Islam berpegang teguh dan perhatian dengan Kitabullah, maka semakin banyak kebaikan dan keutamaan yang ada pada mereka. Dari Sayyidina Utsman bin Affan RA, Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah mereka yang mempelajari Al-Qur'an dan mengamalkannya." [HR. Imam Bukhori]


Di antara bentuk perhatian terhadap Al-Qur'an juga adalah membentuk halaqoh-halaqoh Al-Qur'an yang dikhususkan untuk mengkaji Al-Qur'an. Berinfaq dan mendermakan harta untuk hal-hal yang demikian merupakan amalan yang baik. Karena berpartisipasi dalam menegakkan menara-menara syiar Islam. Hal ini sangat dimotivasi oleh Islam.


Wajib bagi orang-orang yang memiliki kelapangan harta dan mereka yang dikaruniakan Allah SWT kekayaan untuk bersifat dermawan dalam kebaikan, mendukung waqaf penyebaran Al-Qur'an dan membiayai pengkajian, hafalan, dan bacaan Al-Qur'an.


Allah SWT berfirman, "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." [QS. Al-Muzammil: 20]. Kita memohon kepada Allah SWT agar memberi kita Taufiq untuk berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan menjaganya. Kemudian menjadikan kita sebagai ahlul Al-Qur'an yang merupakan ahlullah (keluarga Allah). 

Saturday, April 2, 2022

Mencicipi Masakan Saat Puasa

Mencicipi Masakan Saat Puasa

Q: Assalaamu’alaikum wr wb. Bagaimana hukumnya mencicipi makanan pada saat puasa, dikarenakan belum pandai memasak dan khawatir rasanya kurang pas?




A: Wa’alaikumussalaam wr wb. Hukum mencicipi masakan bagi orang yang berpuasa lalu dikeluarkan kembali dari mulut (dilepeh) dua atau tiga kali sampai ia yakin kalau mulutnya sudah bersih meskipun masih ada bekas rasa itu tidak apa-apa. Yang membatalkan adalah masuknya sesuatu ke dalam rongga, seperti makan dan minum, sedang mencicipi belum dikategorikan masuknya sesuatu pada rongga mulut.


Namun, kita tetap harus hati-hati. Kalau ingin mencicipi harus sekedarnya saja, jangan sampai berlebihan, dikhawatirkan akan masuk ke dalam perut yang nantinya bisa membatalkan puasa. [Fathul Mu’in]

Puasa Dalam Kondisi Junub

Puasa Dalam Kondisi Junub

Q: Assalamualaikum wr. wb. Kami mau menanyakan tentang permasalahan yang sebenarnya sudah agak lama terjadi. Ada seseorang yang suka iseng memperhatikan perempuan sambil mengkhayalkan (melamun). Kadang-kadang saking seriusnya ia bisa terangsang hebat sampai mengeluarkan mani. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana kalau ia sedang berpuasa. Apakah puasanya batal atau tidak? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.




A: Wa alaikumussalaam wr. wb. Menanggapi permasalahan yang Anda tanyakan ini, sebagaimana diketahui bahwa puasa adalah menahan dua syahwat, yaitu syahwat perut dan syahwat bawah perut dimulai sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Sedangkan salah satu yang membatalkan puasa adalah keluarnya mani pada saat menjalankan puasa dan dilakukan secara sengaja. Sampai di sini semuanya tidak ada persoalan. Namun bagaimana jika ada seorang laki-laki melihat perempuan memperhatikan perempuan atau memikirkannya sampai keluar air mani?


Dalam permasalahan ini harus dilihat terlihat dahulu, jika kebiasaan orang tersebut ketika memandang atau memperhatikan perempuan menjadi terangsang sampai mengeluarkan mani, maka hal itu membatalkan puasa. Tetapi jika tidak mengeluarkan mani, maka tidak membatalkan karena disitu terdapat unsur kesengajaan. Demikian juga membatalkan puasa jika ia merasa akan keluar mani sebab memandang, kemudian ia tetap memandang atau menikmatinya sehingga keluar mani. Maka sudah pasti hal itu membatalkan puasa. [Nihayatuz Zain/187]

6 Syarat Diterimanya Puasa

6 Syarat Diterimanya Puasa

Ramadhan akan kita jalani selama berhari-hari sebulan penuh. Kita merasakan lapar dan haus setiap kali matahari berada ujung kepala. Apalagi bagi kita yang masih beraktivitas dan bekerja hingga waktu siang. Perut terasa sakit dan tenggorokan dahaga, ditambah lagi terik yang mengucurkan keringat. Bukan cuma menahan diri dari makan dan minum, tetapi selama puasa kita harus menahan diri dari semua yang membatalkan puasa serta membatalkan pahalanya. Perlu diketahui bahwa adab bathin yang menjadi sebab diterimanya puasa kita itu ada enam, yaitu:




Menjaga Ucapan

Selama berpuasa kita harus lebih menjaga lisan kita dari mencaci saudara kita, dari mengadu domba, memfitnah, ghibah, mencaci maki dan lain sebagainya. Bukan berarti pada bulan-bulan selain Ramadhan kita dibolehkan mencaci muslim atau mengadu domba. Tidak begitu maksudnya. Tetap kapanpun diharamkan. Namun, di bulan Ramadhan lebih diharamkan lagi.


Menjaga Pendengaran

Kita diperintahkan untuk menjaga pendengaran dari pantun-pantun asmara, dari lagu-lagu yang mengandung syahwat dan dari perkataan-perkataan buruk lainnya. Kalau orang benar-benar bahagia menyambut bulan Ramadhan, sebulan full dipakai untuk beribadah kepada Allah.  Tidak menyia-nyiakan waktu untuk mendengarkan hal-hal yang tidak berguna. Dan pada bulan-bulan sebelumnya sudah mengumpulkan bekal untuk mencukupi kebutuhan hidup di bulan puasa itu.


Menjaga Pandangan

Ingatlah, Nabi SAW menyebutkan, kebanyakan maksiat itu sumbernya, intinya bermula dari pandangan. Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya menyebutkan bahwa pandangan itu salah satu dari panah-panah beracun milik syetan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata-mata karena takut kepada-Nya, niscaya Allah SWT akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. Kalau di bulan-bulan lain diharamkan memandang dari melihat yang diharamkan, lebih-lebih di bulan Ramadhan. Kita lebih meningkatkan penjagaan kita dalam pandangan mata.


Menjaga Anggota Badan

Kita diperintahkan untuk menjaga semua anggota tubuh dari hal-hal yang diharamkan. Baik tangan kita, kita lebih menjaga dari menjamah yang diharamkan Allah. Menjaga perut kita dari makanan-makanan syubhat. Menjaga kaki kita melangkah dari jalan yang diharamkan Allah. Ini syarat keempat dari syuruutul bathinah, dari diterimanya puasa.


Mempersedikit Berbuka

Walaupun dari makanan halal, saat berbuka puasa kita tidak boleh makan berlebih-lebihan. Sebaliknya harus mempersedikit. Kenapa demikian? Nafsu manusia menjadi kuat, itu diakibatkan memakan makanan yang halal yang melebihi daripada kebutuhannya, melebihi daripada porsinya. Inilah, yang menguatkan kembali akan nafsu kita dari terbit fajar sampai sebelum berbuka, nafsu sudah lemah menjadi bangkit kembali. Dan ini mengalahkan akan keadaannya pada bulan-bulan lainnya. Justru berbuka dari makanan yang halal yang melebihi batasnya ini menjadikan nafsu di bulan Ramadhan lebih kuat daripada di bulan-bulan lainnya.


Dipastikan orang yang berbuka tadi yang melebihi ketentuannya itu, bangun untuk sholat itu perlu diangkat. Karena sudah tidak kuat. Itu selesai sholat, tidak baca wirid, langsung tidur, dan bangun lagi di waktu sahur. Ummat seperti inilah yang ditangisi oleh Baginda Rasulullah SAW.


Harapan Puasa Diterima

Bila orang yang berpuasa tadi melakukan atau mampu melaksanakan 6 syarat bathin puasa, dijamin puasanya puasa maqbul atau diterima. Puasa yang menjadi pengekang nafsunya, puasa menjadi satu-satunya rahasia antara hamba dengan Allah SWT.


Mudah-mudahan Allah menjadikan kita daripada mereka-mereka yang benar-benar mampu mensyukuri anugerah dipertemukannya oleh Allah dengan bulan Ramadhan. Sehingga benar-benar ibadahnya, ketaatannya, puasanya diterima oleh Allah. Dan dimantapkan akan amal ketaatannya sehingga mendapatkan fadhoil daripada bulan Ramadhan dan menjadikan kita benar-benar pantas untuk menjadi bagian ummat Nabi Muhammad SAW yang dianugerahkan bulan Ramadhan.


WALLAHU A'LAM BISH SHOWAAB

Gelar Terhormat dari Kampus Ramadhan

Gelar Terhormat dari Kampus Ramadhan

Rasulullah SAW menegaskan, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunnah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Imam Bukhari Muslim]



 

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Berbagai kebaikan dan pelajaran kehidupan bisa kita ambil dalam madrasah atau kampus Ramadhan. Pendidikan Ramadhan cakupannya sangat luas.

 

Kami mencoba mengkajinya dalam beberapa pendidikan (tarbiyah) saja, tarbiyah imaniyah, tarbiyah ruhiyah, tarbiyah khuluqiyyah dan tarbiyah ijtima’iyyah. Proses pendidikannya berlangsung selama sebulan penuh. Bagi mereka yang lulus, akan mendapat gelar terhormat sebagai seorang yang bertaqwa.

 

Tarbiyah Imaniyah

Iman manusia bisa bertambah dan berkurang (yaziidu wa yanqush). Dan, Ramadhan merupakan sarana terbaik untuk memperkuat dan mempertebal keimanan kita.

 

Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa ibadah puasa yang diterima Allah dan mengantarkan turunnya maghfirah Allah adalah puasa yang didasari keimanan dan keikhlasan (iimaanan wa ihtisaaban). Beliau SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan amal ibadah tambahan (sunnah) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Imam Bukhori & Imam Muslim]

 

Tarbiyah Ruhiyah

Sebagaimana jasmani, ruhani manusia membutuhkan nutrisi dan asupan gizi. Ruhani manusia membutuhkan siraman dengan aneka amaliyah ibadah. Terutama ibadah puasa yang mengajarkan kita untuk senantiasa merasakan kehadiran Allah. Karena salah satu tujuan utama yang ingin dicapai dari ibadah puasa adalah untuk membentuk pribadi yang bertaqwa, yakni pribadi yang mampu menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas. Dengan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas dan perilakunya, maka orang tersebut akan senantiasa terbimbing dari perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.

 

Tarbiyah Khuluqiyyah

Pendidikan akhlak atau karakter yang banyak didengungkan oleh para pakar pendidikan sejatinya sudah secara nyata diajarkan dalam ibadah puasa. Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” [HR. Imam Bukhori & Imam Muslim]

 

Tarbiyah Ijtima’iyah

Puasa Ramadhan mengajarkan manusia betapa susah dan payahnya menahan lapar dan dahaga. Puasa Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasaskan fakir miskin sehingga di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka.

 

Rasulullah SAW telah mengajarkan semangat berbagi sebagaimanan disebutkan dalam sabda Beliau tentang memberi makan orang yang berbuka puasa. “Barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka kepada yang puasa, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang puasa tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” [HR. Imam Tirmidzi]

 

Kalau benar-benar memaksimalkan tarbiyah-tarbiyah Ramadhan, insyaAllah Ramadhan akan menjadi spirit yang kuat dalam menjalani kehidupan di sebelas bulan berikutnya. Kalau di bulan Ramadhan saja kita tidak bisa mentarbiyah hidup kita, lalu kapan lagi. Rasulullah SAW membuat sebuah pertanyaan tajam, ”Kalau di bulan Ramadhan saja dosanya tidak diampuni, lalu kapan lagi?”

Friday, April 1, 2022

Megengan atau Tradisi Penyambutan Ramadhan dalam Islam

Megengan atau Tradisi Penyambutan Ramadhan dalam Islam

Tradisi meugangan atau megengan berkembang juga di masyarakat Melayu selain di Aceh dan di Jawa. Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, mereka biasanya berkumpul bersama keluarga, makan bersama, dan membaca zikir dan tahlil untuk arwah keluarga mereka yang telah wafat.




Selain itu, masyarakat juga melakukan ziarah kubur dan menggelar sedekah massal di masjid atau mushalla. Ada juga masyarakat yang melakukan kunjungan silaturahmi. Semuanya ini dilakukan dalam rangka menyambut gembira bulan suci Ramadhan.


Bagaimana Islam memandang hal seperti ini?

Riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW juga mengekspresikan kegembiraannya kepada para sahabat perihal kedatangan bulan suci Ramadhan sebagaimana dikutip berikut ini:

 وَقَدْ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَفْظُهُ لَهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ بِقَوْلِ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كُتِبَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حَرُمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حَرُمَ الخَيْرَ الكَثِيْرَ 

Artinya, “Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rasulullah memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan sabdanya, ‘Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak,’” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 222).


Bagi sebagian ulama, hadits ini menjadi dasar hukum bagi masyarakat yang mengekspresikan kegembiraan perihal kedatangan bulan suci Ramadhan. Hadits ini membuktikan bahwa satu sama lain boleh bergembira atas kedatangan bulan Ramadhan dan mereka dapat memberikan kabar gembira kepada yang lain.

 قال بعض العلماء هذا الحديث أصل في تهنئة الناس بعضهم بعضا بشهر رمضان 

Artinya, “Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menjadi dasar atas praktik penyambutan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atas kedatangan bulan Ramadhan,” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 223).


Adapun Al-Qamuli mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat perihal hukum ucapan selamat atas hari Id, pergantian tahun, dan pergantian bulan yang diamalkan masyarakat. Tetapi yang jelas sejauh tradisi itu hanya berisi ucapan selamat datang atas bulan yang mulia tidak termasuk kategori sunnah atau bid’ah.

 قال قمولي في الجواهر لم أر لأحد من أصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقله الحافظ المنذري عن الحافظ أبي الحسن المقدسي أن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذي أراه أنه مباح لا سنة ولا بدعة انتهى 

Artinya, “Al-Qamuli dalam Kitab Al-Jawahir mengatakan, ‘Saya tidak melihat pendapat para ulama kita perihal tahniah atau penyambutan gembira atas Hari Id, pergantian tahun, atau bulan sebagaimana dilakukan oleh banyak orang. Tetapi Al-Hafiz Al-Mundziri mengutipnya dari Al-Hafiz Abul Hasan Al-Maqdisi, ‘Orang-orang selalu berbeda pendapat perihal ini. Sedangkan pendapatku adalah bahwa hal itu mubah, bukan sunnah, bukan bid’ah.’ Selesai,’” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 223).


Sementara pada hemat kami, praktik meugengan atau megengan di Aceh, Jawa, Melayu, dan pelbagai belahan Nusantara lainnya memuat hal-hal yang baik, yaitu zikir, tahlil, silaturahmi, makan bersama keluarga, ziarah kubur, dan sedekah yang semuanya secara umum memang dianjurkan kapan saja oleh agama Islam.


Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.


Sumber : https://islam.nu.or.id/bahtsul-masail/megengan-atau-tradisi-penyambutan-ramadhan-dalam-islam-CFINu


Badan Otonom

Muslimat NU
Read More
GP Ansor
Read More
Fatayat NU
Read More
IPNU
Read More
IPPNU
Read More
PMII
Read More
Jatman
Read More
JQH NU
Read More
ISNU
Read More
PSNU PN
Read More

Lembaga

LP Ma'arif NU
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama
RMINU
Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama
LBMNU
Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama
LESBUMI
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia
LAZISNU
Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama
LTNNU
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama
LAKPESDAM
Kajian Pengembangan Sumber daya
LDNU
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
LPBINU
Penanggulangan Bencana Perubahan Iklim
LTMNU
Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama
LKKNU
Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama
LFNU
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama
LPBHNU
Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama
LPNU
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama
LPPNU
Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama
LKNU
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama
LPTNU
Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama
LTN NU
Lembaga Infokom dan Publikasi Nahdlatul Ulama
LWPNU
Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama

Contact

Talk to us

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis)

Alamat:

Jl. Tuntang, Pandean, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur 63133

Jam Kerja:

Setiap Hari 24 Jam

Telpon:

-