Nahdlatul Ulama Kota Madiun

sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah

Youtube

Profil

Sejarah

Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Read More

Visi Misi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Pengurus

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Madiun terdiri dari 3 unsur kepengurusan, Mustasyar (Penasihat), Syuriyah (Pimpinan tertinggi), dan Tanfidziyah (Pelaksana Harian).

Read More

MWC

MWC (Majelis Wakil Cabang) merupakan kepengurusan di tingkat kecamatan, terdiri dari MWC NU Manguharjo, MWC NU Kartoharjo, dan MWC NU Taman.

Read More

Warta

Tuesday, February 8, 2022

Puasa Rajab

Puasa Rajab

 قال: سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب ونحن يومئذ في رجب. فقال: سمعت ابن عباس رضي الله عنه يقول: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر. ويفطر حتى نقول لا يصوم. (رواه مسلم) 

"Utsman bin Hakim al-Anshari berkata: " Aku bertanya kepada Said bin Jubair tentang puasa Rajab, dan saat itu kami sedang dalam bulan Rajab. Lalu ia menjawab: "Aku mendengar Ibn Abbas RA berkata: " Rasulullah SAW berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau juga berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa." [HR. Imam Muslim]



Dari hadits ini, Imam Nawawi berkata:

الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أنه لا نهي عنه، ولا ندب فيه لعينه، بل له حكم باقي الشهور، ولم يثبت في صوم رجب نهي ولا ندب لعينه، ولكن أصل الصوم مندوب إليه. وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم، ورجب أحدها. 

"Lahiriahnya, maksud Said bin Jubair bahwa tidak ada larangan khusus atau anjuran khusus untuk puasa Rajab, namun sama dengan bulan lainnya. Tetapi hukum asal puasa adalah sunnah. Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW menganjurkan puasa bulan-bulan mulia, dan salah satunya bulan Rajab." [An-Nawawi, Syarh Muslim, IV/167]

Monday, February 7, 2022

Kita Tidak Menghitung atau Kita Tidak Tahu Hitungan?

Kita Tidak Menghitung atau Kita Tidak Tahu Hitungan?

Marilah kita hitung. Kita dianugerahi Allah umur sehari sebanyak 24 jam.

 

Berapa jamkah yang kit


a pergunakan untuk kehidupan dunia ini dan berapa jam -atau menit saja- untuk kehidupan akhirat?

 

Berapa jam untuk memusingi kehidupan duniawi kita dan berapa jam untuk berdzikir, misalnya?

 

Dalam setahun, kita dianugerahi umur sebanyak 12 bulan. Taruhlah sebulan, di bulan Ramadhan, kita gunakan sepenuhnya untuk akhirat, sepadankah dengan 11 bulan jika seluruhnya kita gunakan hanya untuk menyibuki urusan duniawi?

GUS MUS

Mari Memohon Hanya Kepada Allah

Mari Memohon Hanya Kepada Allah

Dikisahkan, suatu waktu Nabi Musa AS merasakan sakit pada giginya. Beliau mengadukan penyakitnya itu kepada Allah agar mendapatkan kesembuhan.



 

Allah kemudian berkata kepada Nabi Musa, “Ambillah rumput, kemudian letakkanlah di gigimu yang sakit.”

 

Nabi Musa dengan segera mencari rumput, yang kemudian disentuhkan pada giginya yang sakit. Ajaib. Seketika hilanglah rasa sakit di gigi Nabi Musa.

 

Pada waktu yang lain, Nabi Musa merasakan lagi rasa sakit pada giginya. Tanpa pikir panjang, beliau segera mencari rumput dan disentuhkan pada giginya yang sakit.

 

Apa yang terjadi?

Rasa sakit pada giginya malah semakin menghebat. Semakin berlipat dari sakit gigi yang diderita dahulu.

 

Nabi Musa kemudian menanyakan hal ini kepada Allah,

“Ya Ilahi, bukankah Engkau yang memerintahkanku dan memberi petunjuk untuk meletakkan rumput di gigiku yang sakit?”

 

Allah berkata, “Wahai Musa, Akulah Yang Maha Menyembuhkan. Akulah Yang Memberi Penyakit. Akulah Yang Memberi Manfaat. Pada waktu sakit gigimu yang pertama, kamu meminta kesembuhan kepada-Ku, maka aku angkat rasa sakitmu. Sekarang kamu mengharapkan kesembuhan dari rumput, dan tidak memohon kepada-Ku.”

(…)

Bukan obat yang menyembuhkan.

Bukan makanan yang mengenyangkan.

Bukan api yang membakar.

Semua itu pada hakikatnya Allah yang lakukan.

Allah Maha Kuasa atas apapun.

 

Secara KEBIASAAN saja kita sembuh setelah minum obat. Jika Allah tidak menghendaki kesembuhan, minum semua jenis obat di dunia pun tidak akan berkurang penyakitnya.

[Diterjemahkan dari Hasyiyah Kifayatil ‘Awam]

Thursday, February 3, 2022

Air yang mengalami perubahan (mutaghayyir)

Air yang mengalami perubahan (mutaghayyir)

Air yang berubah (mutaghayyir) diklasifikasi ke dalam dua bentuk:

a)      Air yang berubah secara hissy (kasat mata)



Adapun air mutaghayyir secara hissy (kasat mata) adalah air yang mengalami perubahan salah satu sifatnya disebabkan tercampur dengan barang suci lain dengan perubahan yang menghilangkan status kemutlakan nama air tersebut. Sebagai contoh air sumur yang masih asli disebut air mutlak. Ketika air ini dicampur dengan teh sehingga terjadi perubahan pada sifat-sifatnya maka air tersebut disebut sebagai teh.

b)      Air yang berubah secara taqdiry (perkiraan)

Air berubah secara taqdiry (perkiraan) adalah air yang bercampur dengan benda yang mempunyai kesamaan sifat dengannya, baik dari segi rasa, warna, ataupun bau; seperti benda berupa air mawar dan juga seperti sari delima (berubah rasa), sari anggur (berubah warna), sari daun pandan (berubah aroma) yang kesemuanya sudah hilang ciri khususnya sehingga tampak seperti air biasa. Air demikian jika bercampur dengan air mutlak dan diperkirakan volumenya (dengan intensitas normal/wasath) bisa merubah kemutlakan air, maka hukumnya menjadi air mutaghayyir.

 

Sama halnya dengan air mustakmal. Apabila air mustakmal bercampur dengan air mutlak lalu diperkirakan air mustakmal itu dengan intensitas normal (wasath) bisa merubah kemutlakan air, maka hukumnya menjadi air mutaghayyir (berubah) secara taqdiry (perkiraan). Misal volume air mustakmal 1 liter lalu bercampur dengan air mutlak (biasa) 1 liter, maka air tersebut menjadi air mutaghayyir (berubah) sehingga suci tidak menyucikan, mengingat jika air mustakmal dikonversikan seperti air teh dengan intensitas normal (bukan teh pekat), pastilah air itu sudah berubah bentuk. Hanya saja pengira-ngiraan air mustakmal hanya berlaku di bawah volume 2 kulah. Sedang di atas dua kulah. Pengiraan ini tidak berlaku lagi, sebab air mustakmal dengan volume 2 kulah bahkan lebih dianggap suci menyucikan.

 

Pada prinsipnya air disebut berubah (mutaghayyir) jika merubah status kemutlakan air. Artinya jika air berubah sedikit namun tidak merubah status kemutlakan air maka masih dianggap menyucikan. Begitupun air yang berubah sebab didiamkan dalam waktu lama, berubah karena lumpur, lumut dan perubahan sebab benda yang berada di tempat mengenang atau melintasnya air, seperti belerang, tetap dianggap menyucikan walaupun berubah karena masih berstatus air mutlak. Contoh demikian adalah perubahan sebab benda mukhalith (benda yang larut). Sementara perubahan yang disebabkan oleh benda mujawir (benda yang bersanding) seperti kayu dan minyak yang berbau juga masih dianggap menyucikan karena masih berstatus mutlak. Demikian juga tanah yang sengaja dimasukkan ke dalam air sehingga berubah, menurut qaul adzhar hukumnya tetap menyucikan, karena tidak dianggap merusak status kemutlakan air.

 

Jenis sesuatu yang merubah pada air dikelompokkan menjadi dua, yaitu mujawir dan mukhalith. Mukhalith adalah benda yang tidak dapat dipisahkan dari air (larut dengan air). Sedangkan mujawir adalah kebalikannya (bersanding atau tidak larut dengan air). Kendati demikian, ada benda yang selamanya mujawir, seperti batu. Ada yang berupa mukhalith kemudian menjadi mujawir seperti; debu. Selain itu ada pula yang mujawir kemudian menjadi mukhalith semisal daun.

 

Kesimpulan benda yang merubah air adalah sebagai berikut; air yang berubah adakalanya mukhalith (larut dengan air) dan mujawir (bersanding dengan air). Mukhalith terbagi dua adakalanya berubah dengan benda yang tidak bisa dilepaskan oleh air seperti lumut dan ganggang, maka air tersebut masih tergolong air mutlak. Adakalanya berubah dengan benda yang bisa dilepaskan oleh air. Dalam hal ini, apabila berubahnya sedikit masih dikategorikan air mutlak. Apabila berubahnya banyak, maka sifat kemutlakan air menjadi hilang sehingga tidak bisa menyucikan seperti kopi dan susu. Kategori mukhalith ini mengecualikan kasus perubahan air dengan daun yang lebur, garam dan tanah meskipun dimasukkan ke dalam air dengan sengaja.

 

Perubahan dengan benda mujawir terbagi menjadi dua. Adakalanya benda mujawir yang dapat melebur kemudian menjadi larut seperti buah anggur dan apricot, maka hukumnya seperti mukhalith yang apabila berubah banyak dapat menghilangkan kemutlakan air.  Adakalanya benda mujawir yang tidak dapat melebur seperti batang pohon dan minyak. Perubahan benda demikian tidak menghilangkan kemutlakan air.

 

Ringkasnya terdapat enam syarat perubahan air dapat berpengaruh terhadap hilangnya kemutlakan air:

1.       Tidak berubah dengan sendirinya;

2.       Berubah dengan benda mukhalith;

3.       Benda tersebut bisa dilepaskan dari air (mustaghna anhu);

4.       Air bisa menghindari benda-benda tersebut;

5.       Perubahannya banyak;

Benda yang campur bukan garam atau tanah.

Air Suci yang Tidak Menyucikan

Air Suci yang Tidak Menyucikan

Air ini zatnya suci namun tidak bisa dipakai untuk bersuci, baik untuk bersuci dari hadas maupun dari najis. Air jenis ini terbagi menjadi dua kategori, antara lain:




·         Air Mustakmal

Air Mustakamal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci baik untuk menghilangkan hadas seperti wudhu dan mandi dalam basuhan yang pertama, ataupun untuk menghilangkan najis dengan catatan selama air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah volumenya setelah terpisah dari air yang terserap oleh benda yang dibasuh. Air mustakmal memiliki dua sisi yakni suci namun tidak menyucikan. Dihukumi suci sebab salafush sholih (sahabat dan tabi’in) tidak menghindari percikran air mustakmal, bahkan Rasulullah SAW menggunakan air bekas wudhunya untuk mengobati sahabat Jabir Ra. Dan dihukumi tidak menyebabkan, sebab salafush sholih hidup dalam kondisi air yang terbatas dimana mereka tidak mengumpulkan air mustakmal untuk digunakan lagi, bahkan untuk minum sekalipun. Mereka lebih memilih beralih menggunakan tayamum.

 

Ulama berbeda pendapat menentukan alasan di balik tidak dapat digunakannya air mustakmal untuk bersuci dengan rincian sebagai berikut:

1.       Air mustakmal tidak termasuk air mutlak sebagaimana yang dishahihkan oleh Imam Nawawi.

2.       Air mustakmal masih termasuk air mutlak, namun tidak dapat menyucikan sebab factor irasional (ta’abbudi) sebagaimana pendapat Imam Rofi’i

Air mustakmal adalah air bekas basuhan wajib sehingga air bekas basuhan sunnah tidak termasuk darinya, seperti basuhan kedua, ketiga dan basuhan memperbarui wudhu (tajdid al-wudhu).

 

Air dapat dihukumi mustakmal setelah digunakan menyucikan badan dari hadas ketika telah memenuhi empat syarat, antara lain:

1.       Sedikitnya air (kurang dari dua kulah),

2.       Digunakan untuk hal yang harus dilakukuan (wajib),

3.       Telah terpisah dari anggota yang dibasuh,

Tanpa niat untuk mengambil air (ightiraf).

AKHLAK RASULULLAH PADA SESUATU YANG TAK DISENANGI

AKHLAK RASULULLAH PADA SESUATU YANG TAK DISENANGI

Rasulullah adalah orang yang paling halus kulitnya, yang paling lembut hati dan batinnya. Kemarahan dan kesenangannya dapat diketahui dari raut wajahnya. Apabila telah memuncak kemarahannya, beliau lebih banyak mengusap jenggotnya. Beliau tidak berbicara kepada seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya.

 


Seorang laki-laki menemui Rasulullah. Pada diri laki-laki itu terdapat warna kuning yang tidak disukai beliau. Maka beliau tidak berbicara dengan laki-laki itu sehingga ia keluar. Kemudian beliau bersabda, “Seandainya kalian berkata pada laki-laki itu untuk meninggalkan ini, yaitu warna kuning, niscaya akan lebih bagus.”

 

Pernah seorang Arab Badui kencing di dalam masjid, kemudian para sahabat bermaksud mencegahnya. Beliau bersabda, “Janganlah kalian memutuskan kencingnya.” Kemudian beliau bersabda kepada orang Badui itu, “Sesungguhnya masjid ini tidak boleh untuk sesuatu yang kotor, yaitu berak dan kencing.” [HR. Muttafaq ‘alaih dari Anas]

 

Dalam riwayat lainnya beliau bersabda, “Ajaklah untuk mendekat, janganlah kalian membuat orang lari.”

 

Pada suatu hari datang seorang Badui menemui Rasulullah untuk meminta sesuatu. Maka beliau pun memberi, lalu bertanya kepadanya, “Apakah aku telah berbuat baik kepadamu?”

Orang Arab Badui itu menjawab, “Tidak, engkau belum berbuat baik padaku.”

 

Maka para sahabat marah dan mereka berdiri menghadap orang Badui itu.

 

Maka Rasulullah memberikan isyarat kepada mereka supaya menahan amarah. Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, lalu keluar seraya mengirim tambahan pemberian sesuatu kepada orang Arab Badui itu. Kemudian beliau bertanya lagi kepada orang Arab Badui itu, “Aku telah berbuat baik kepadamu?”

Orang Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah membalas kebaikanmu kepada keluargaku.”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan, dan di hati para sahabatku, ada ganjalan karena kata-katamu. Maka jika engkau mau, berkatalah di hadapan mereka apa yang engkau ucapkan di hadapanku, sehingga hinggalah ganjalan yang ada di hati mereka.”

Orang Badui itu menjawab, “Baiklah”.

 

Pada hari berikutnya, orang Badui itu datang lagi. Maka Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya orang Badui ini telah berkata begini dan begitu, kemudian kami menambah pemberian kepadanya. Tampaknya ia telah rela, bukankah begitu?”

Kemudian orang Badui itu berkata, “Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

 

Setelah peristiwa itu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dan orang Badui ini adalah seperti seorang laki-laki yang memiliki unta betina yang terlepas talinya. Kemudian orang-orang berlarian mengejarnya, namun orang-orang itu bukannya berhasil mengendalikannya, malah membuat unta itu semakin lari menjauh.

“Pemilik unta kemudian menyeru kepada orang-orang yang mengejarnya, ‘Biarkanlah aku yang mengejarnya, sesungguhnya aku lebih mengetahui tabiatnya dan lebih menyayanginya daripada kalian.’

 

“Pemilik unta itu lalu mengejar untanya. Ketika sudah dekat, ia mengambil rumput kering lalu melambai-lambainya sehingga untanya mendekat pemilik unta itu kemudian mengikat dengan kuat-kuat pelananya dan menaikinya.

 

“Seandainya aku membiarkan kalian karena perkataan laki-laki Badui itu, kemudian kalian membunuhnya, tentu hal itu akan menyeret kalian ke neraka.” [HR. al-Bazzar dan Abus Syaikh]

MURAH HATI DAN DERMAWAN RASULULLAH

MURAH HATI DAN DERMAWAN RASULULLAH

Rasulullah adalah orang yang paling murah hati dan yang paling dermawan. Kedermawannya pada bulan Ramadhan bagaikan angin berhembus, tak menahan sesuatu sama sekali.



 

‘Ali bin Abi Thalib KWH bilamana melukiskan sifat-sifatnya mengatakan, “Rasulullah adalah orang yang murah tangan, yang paling lapang dada, yang paling jujur, yang selalu menepati janji, yang paling lemah lembut tabiatnya dan yang paling mulia dalam bergaul.”

 

Barangsiapa yang melihat sepintas lalu kepadanya, maka timbullah rasa gembira bercampur rasa hormat. Barangsiapa yang mengenalnya, niscaya akan mencintainya. Orang yang menerangkan sifat-sifat beliau berkata, “Aku belum pernah melihat sebelum dan sesudahnya orang yang sepertinya.” Beliau tidak dimintai sesuatu dalam Islam, melainkan pasti memberikannya.

 

Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah dan meminta sesuatu kepadanya, lalu beliau memberikan sekawanan kambing yang memenuhi sisi di antara dua bukit. Maka kedua laki-laki itu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Masuklah kalian kepada Islam, karena sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian seperti orang yang tidak pernah takut miskin.”

 

Rasulullah tidak pernah dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata, “Tidak.” [HR. Muttafaq ‘alaih dari Jabir]

 

Dibawakan kepada Rasulullah uang sebesar Sembilan puluh ribu dirham. Diletakkannya uang itu di atas tikar, kemudian beliau berdiri dan membagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya. Beliau tidak menolak orang yang meminta, sehingga selesai membagikan uang itu.

 

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah kemudian meminta sesuatu kepadanya. Beliau menjawab, “Aku tidak mempunyai sesuatu, meski demikian belilah sesuatu atas tangguanku. Apabila datang sesuatu padaku (rezeki), niscaya aku akan melunasinya.”

 

Ketika Rasulullah kembali dari perang Hunain, datang orang-orang Arab Badui memintainya dengan memaksa, sehingga mereka mendesak beliau ke pohon dan kain selendangnya diserobot. Kemudian beliau berhenti seraya berkata, “Kembalikanlah kain selendangku itu, seandainya aku memiliki harta sebanyak padang ilalang ini, niscaya akan aku bagikan kepada kalian. Aku bukanlah termasuk orang yang kikir, pendusta dan penakut.” [HR. Imam al-Bukhari dari Jubari bin Muth’im]

Rajab Bulan-Nya Allah

Rajab Bulan-Nya Allah

Rajab adalah bulan Allah yang penuh curahan. Karena di bulan ini Allah SWT mencurahkan Rahmat-Nya kepada orang-orang yang bertaubat dan menebarkan cahaya pengabulan bagi seluruh alam. Orang arab juga menamakannya al-Ashom (tuli) karena di bulan itu Allah mengutuk para syaitan sehingga tidak mengganggu para wali dan orang-orang sholeh.



Nabi SAW bersabda: “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan adalah bulan ummatku.” 


Para ulama berkata: “Rajab adalah bulan istighfar, Sya’ban adalah bulan bersholawat kepada Nabi SAW dan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Maka bersungguh-sungguhlah kalian di bulan mulia itu karena itulah waktu perdagangan yang menguntungkan. Dan makmurkanlah seluruh waktu kalian dengan ibadah karena itulah waktu yang tepat untuk memakmurkan. Barangsiapa ingin sukses dan bahagia inilah waktunya telah tiba. Barangsiapa yang sakit dengan dosa-dosa maka inilah obatnya telah tersedia.


Imam Wahab bin Munabbih RA berkata: “Semua air sungai di dunia berziarah kepada air Zam-zam di bulan Rajab. Dan aku telah membaca di dalam kitab yang telah Allah turunkan bahwasanya. “Barangsiapa yang memohon ampun kepada Allah di bulan Rajab pagi dan sore hari dengan mengangkat tangannya dan mengucapkan:

رب اغفر لي وارحمني وتب علي

“Yaa Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku” maka kulitnya tidak akan tersentuh api neraka.”


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB

Tuesday, February 1, 2022

GUS DUR TITIP GRANAT

GUS DUR TITIP GRANAT

Ini terjadi di tengah Indonesia sedang dilanda krisis moneter. Suatu hari Gus Dur hendak mencairkan selembar cek di BCA. Tidak tanggung-tanggung nilainya Rp. 50 juta rupiah. Yang disuruh mencairkan adalah sopirnya, sementara dia sendiri menunggu di kantor PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta. Apa yang terjadi? Ternyata pihak bank menolak, dengan alasan tidak ada uang. Mendapat jawaban demikian, karuan saja sopir Gus Dur balik ke kantor PBNU dengan tangan hampa.




"Maaf Gus, bank-bank pada kehabisan duit," kata si sopir. Gus Dur pun kaget. 'Lho, knk kan uang saya. Uang sendiri nggak boleh diambil itu gimana ceritanya? Tolong sana balik lagi!" perintah Gus Dur. Namun hasilnya tetap sama, si sopir pulang dengan tangan kosong. Alasannya juga sama duit bank sudah 'bersih'.


Mendengar penjelasan tersebut, maka muncullah akal-akalan Mafioso ala Gus Dur. "Begini saja. Tugas kamu pokoknya harus bisa mengambil uang itu," katanya.


"Begini caranya. Masukkan tanganmu ke dalam tas kresek warna hitam. Datang lagi ke bank. Sampaikan kepada petugas bank, bahwa uang Gus Dur harus diambil hari ini juga. Kalau tidak boleh, bilang, 'Kalau masih tidak boleh. Gus Dur minta agar saya membuka katup granat ini. Biar semua berantakan. Ini perintah! Pilih, diberikan atau saya harus meletakkan tempat ini!"


Akhirnya dengan bekal tas kresek plastik berangkatlah sang sopir ke bank. "Tolong, Pak, saya masih harus mengambil uang Gus Dur. Dan saya mendapat perintah, kalau sampai tidak boleh mengambil uang itu, maka bom di tangan saya ini harus dipencet. Pilih meledak atau mencairkan duit Gus Dur!" kata sang sopir dengan menunjukkan tangannya yang terbungkus tas kresek hitam.


Karuan saja, petugas bank jadi gemetaran. Akhirnya dengan cepat petugas bank mencairkan milik Gus Dur. Barulah sang sopir tadi pulang dengan perasaan bangga tetapi terus dikawal polisi karena tangannya tetap mengepal di dalam tas kresek.


Walhasil, sampai di kantor PBNU, sang sopir masih dibuntuti polisi. Begitu keluar dan tangannya sudah bebas, polisi itu nyengir, karena tahu bahwa di tangan sopir itu ternyata tidak membawa apa-apa.


"Kalau bukan saya yang menyuruh, mungkin sopir tadi sudah di-kombong-kan (disel) polisi," kata Gus Dur

Badan Otonom

Muslimat NU
Read More
GP Ansor
Read More
Fatayat NU
Read More
IPNU
Read More
IPPNU
Read More
PMII
Read More
Jatman
Read More
JQH NU
Read More
ISNU
Read More
PSNU PN
Read More

Lembaga

LP Ma'arif NU
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama
RMINU
Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama
LBMNU
Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama
LESBUMI
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia
LAZISNU
Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama
LTNNU
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama
LAKPESDAM
Kajian Pengembangan Sumber daya
LDNU
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
LPBINU
Penanggulangan Bencana Perubahan Iklim
LTMNU
Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama
LKKNU
Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama
LFNU
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama
LPBHNU
Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama
LPNU
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama
LPPNU
Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama
LKNU
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama
LPTNU
Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama
LTN NU
Lembaga Infokom dan Publikasi Nahdlatul Ulama
LWPNU
Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama

Contact

Talk to us

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis)

Alamat:

Jl. Tuntang, Pandean, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur 63133

Jam Kerja:

Setiap Hari 24 Jam

Telpon:

-