Nahdlatul Ulama Kota Madiun

sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah

Youtube

Profil

Sejarah

Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Read More

Visi Misi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Pengurus

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Madiun terdiri dari 3 unsur kepengurusan, Mustasyar (Penasihat), Syuriyah (Pimpinan tertinggi), dan Tanfidziyah (Pelaksana Harian).

Read More

MWC

MWC (Majelis Wakil Cabang) merupakan kepengurusan di tingkat kecamatan, terdiri dari MWC NU Manguharjo, MWC NU Kartoharjo, dan MWC NU Taman.

Read More

Warta

Saturday, September 24, 2022

Gus Nadhif: Putra Asli Kota Pendekar Bawa Pencak Silat ke Belanda

Gus Nadhif: Putra Asli Kota Pendekar Bawa Pencak Silat ke Belanda

NU Kota Madiun – Nadhif Muhammad Mumtaz tau yang akrab disapa Gus Nadhif ini merupakan salah satu putra dari Mustasyar PCNU Kota Madiun yaitu KH. Fuad Hariri. 


Gus Nadhif menjadi salah satu sosok pemuda yang layak diberi slogan “Yang Muda Yang Berkarya”, bagaimana tidak? Pria yang lahir pada tahun 1995 ini sudah banyak mengantongi karya di usia yang terbilang masih cukup muda.


Gus Nadhif yang tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Tambakberas Jombang ini juga menjadi salah satu alumni Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim Malang pada tahun 2018. Tidak cukup disitu, Gus Nadhif juga melanjutkan proses belajar ke jenjang S2 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus pada tahun 2021.


Dikenal sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi, pada kenyataannya Gus Nadhif juga masih tetap berprestasi. Beliau berhasil meraih penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2021 lalu.


“Jurusan yang Saya ambil di UIN Jakarta ini terkenal cukup sulit, sebab tahapan yang dilalui seperti ujian proposal, WIP 1, WIP 2, ujian pendahuluan, dan baru kemudian promosi tesis,” ujar Gus Nadhif, saat dihubungi oleh tim warta NU Kota Madiun.


Salah satu hal yang terbilang cukup unik dari sosok yang mengidolakan Prof. Dr. H. Abudin Nata ini adalah beliau merupakan mahasiswa yang rajin.

“Saya tidak pinter juga, hanya beruntung dan memang tergolong rajin,” imbuhnya.


Pada masa mengembara—begitulah kiranya istilah yang kami gunakan untuk menggambarkan suatu proses—yang Gus Nadhif jalani sejak berkuliah di UIN Malik Ibrahim Malang, ada banyak prestasi yang telah didapatkan. Seperti menjadi Ketua UKM Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa UIN Malang, Ketua Association of International Class Program, bahkan menjadi Ketua Pencak Silat di ranah Perguruan Tinggi.


Hal itu membuktikan bahwa kiprah Gus Nadhif dalam berproses benar-benar matang melalui beberapa organisasi tersebut. Dan jangan salah, pada jenjang S2 ternyata “pengembaraan” Gus Nadhif masih terus berlanjut.


Bagaimana tidak, Gus Nadhif berhasil mengikuti konferensi artikel dan pernah mempresentasikannya pada event “3rd Biennial International Conference”, dan artikel yang dipresentasikan Gus Nadhif adalah berjudul “Mutual Supporting Between Islamic Law and Customary Law.”


Dalam tulisannya, Gus Nadhif mengangkat dua Perguruan Pencak Silat yang merupakan budaya lokal untuk dipaparkan ke Negeri Kincir Angin itu, yaitu Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang digali informasinya langsung dari suwargi Romo Yai Agus Sunyoto di Malang, yang mewakili Perguruan di bawah naungan ormas Islam dan juga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang digelutinya sedari Tsanawiyah tatkala mondok, yang mewakili Perguruan bukan naungan ormas Islam. 


Gus Nadhif ingin menggambarkan bahwasanya Hukum Islam dengan Hukum Adat ternyata bisa jalan seiringan dan tidak berat sebelah. Keinginan untuk menyempurnakan teori dari  Dr. Snouck Hurgronje yang menganggap Hukum Adat di atas Hukum Agama dan juga teori dari Prof. Sayuti yang menilai Hukum Agama lebih utama dibandingkan Hukum Adat jadi modal Gus Nadhif untuk bisa menulis karya ilmiah tersebut. 

Gus Nadhif menceritakan pada acara yang digelar saat musim semi itu juga dihadiri oleh Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) serta Prof. Dr.Phil. Sahiron, M.A. Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai Keynote Speaker. 


Selain tulisan abstrak yang akhirnya bisa mengantarkannya untuk mengikuti agenda itu juga banyak tulisan Gus Nadhif yang terbit pada beberapa jurnal, dan bahkan beliau juga menulis dua buku yang berjudul Guru Ideal dan Jurang. Gus Nadhif sendiri berpendapat jika kita punya ilmu dari hasil belajar maka ada tuntutan untuk mengamalkannya nah salah satunya adalah dengan cara menulis dengan harapan bisa bermanfaat kepada orang lain. 


Dari jejak tersebut kiranya mampu diartikan bahwa Gus Nadhif memang menekuni bidang literasi, salah satu hal yang bagi sebagian orang dianggap sulit dan menakutkan. Melalui karya dan tulisan Gus Nadhif, setidaknya ada fakta bahwa skill menulis memang ada dan bahkan dibutuhkan di era saat ini.

“Mayoritas orang akan merasa takut tulisannya tidak berkualitas, dan persoalan takut untuk menulis adalah problem terbesar. Menurut saya, tidak masalah jika tulisan kita dikritik, sebab jika menilik dalam dunia filsafat maka tidak ada kata salah dan benar. Semua berdialektika untuk menuju kesempurnaan,” tegasnya.


Ketekunannya dalam bidang literasi dan juga pendidikan rupanya membawa Gus Nadhif tiba pada jenjang pendidikan S3.


Beliau melanjutkan studi di UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) sekaligus menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo.


Gus Nadhif, satu cahaya yang mulai bersinar dari Kota Madiun, memberikan letupan semangat bagi generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) untuk tetap berproses dan belajar, agar kelak turut memperjuangkan NU dimanapun berada.

Semoga.***

Kontributor : Intan Gandhini

Editor : Haris Saputro

Thursday, September 22, 2022

Alissa Wahid, Hidupkan Semangat Toleransi Melalui Gerakan Moderasi Beragama

Alissa Wahid, Hidupkan Semangat Toleransi Melalui Gerakan Moderasi Beragama

Alissa Wahid merupakan seorang putri sulung dari Gusdur dan saat ini menjadi sosok pencetus jaringan Gusdurian Indonesia.


Pada agenda seminar internasional dalam rangkaian "The 3rd International Conference Islamic Studies (ICIS) 2022", Alissa Wahid memaparkan beberapa hal dalam agenda yang diadakan oleh Rumah Jurnal IAIN Ponorogo tersebut. 


Dengan berlokasi di Graha Watoe Dhakon, Alissa Wahid menjelaskan betapa pentingnya memahami moderasi beragama khususnya untuk para generasi muda. 


Moderasi beragama kini bukan hanya sebatas jargon semata, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam dari itu. Bahkan, Alissa Wahid memaparkan beberapa hal yang menjadi tantangan dari adanya moderasi beragama ini. 


Dengan tema besar "Contestation of Religius Moderation in Contemporary Muslim Society" dalam seminar tersebut, Alissa Wahid tidak lupa menjelaskan apa yang menjadi harapannya untuk generasi emas mendatang. 


"Urgensi moderasi beragama menurut Kemenag ada 3, yaitu berkembangnya cara pandang dan sikap dalam beragama, berkembangnya klaim kebenaran dan pemaksaan klaim tersebut, dan berkembangnya senangat beragama yang tidak selaras dengan identitas bangsabangsa," kata Alissa Wahid. 


Moderasi beragama bisa digalakkan salah satunya adalah melalui masifisme media sosial. Hal tersebut tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab para pemilik akun bercentang biru saja, melainkan juga urusan kita semua. 




Generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran cukup penting dalam perkembangan moderasi beragama, sebab yang muda yang mampu memperjuangkan perannya. 


Bahkan, Alissa Wahid tidak lupa menjelaskan dengan adanya moderasi beragama ini kelak akan mampu menjadi salah satu kunci kedamaian antar umat beragama, khususnya di Indonesia. 


"Ini bukan hanya sekadar kepedulian, tetapi ini panggilan bagi kita. Corak keislaman seperti apa yang akan kita tunjukkan pada dunia, Indonesia adalah kabar baik bagi peradaban islam dan peradaban dunia," ujar Alissa Wahid. 


Moderasi beragama kiranya mampu menjadi salah satu hal yang harus terus dihidupkan, digerakkan, dan ditumbuhkan. 


Bukan hanya karena hari ini seluruh generasi muda dituntut perannya, tetapi ini adalah sebuah goals untuk perkembangan dan kemaslahatan Nahdlatul Ulama kedepannya. 


Moderasi beragama harus terus disuarakan, melalui media sosial, website, dan beberapa tulisan yang bisa hidup sampai kapan saja. 


Kelak, moderasi beragama akan mampu dijadikan senjata untuk terus menghargai perbedaan dan mewujudkan keadilan agar mampu mencapai kedamaian. 


Semoga.***


📝 : Intan Gandhini

Wednesday, September 21, 2022

Lewat ‘BARBERKU’, LKKNU Kota Madiun Tumbuhkan Sikap Dermawan dan Pupuk Kepedulian

Lewat ‘BARBERKU’, LKKNU Kota Madiun Tumbuhkan Sikap Dermawan dan Pupuk Kepedulian

Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kota Madiun luncurkan program kepedulian sesama dengan branding ‘BARBERKU’ atau dengan kepanjangan Barang Bekas Berkualtas.

Program ini digagas oleh tim LKKNU Kota Madiun dan merupakan hasil musyawarah bersama untuk merumuskan program yang bisa dijalankan.

Eliyyi Akbar, selaku Ketua LKKNU Kota Madiun, saat dihubungi oleh tim LTNNU Kota Madiun, pada Rabu, 21 September 2022, menjelaskan awal mula adanya program tersebut. Pihaknya menerangkan bahwa program tersebut memang buah pemikiran dari tim LKKNU.

“Bukan, gagasan ini bukan dari saya pribadi, tapi hasil dari musyawarah sahabat-sahabat LKKNU Kota Madiun. Awal mulanya program ini dicanangkan dengan melihat fenomena keresahan keluarga yang bingung membuang barang-barang yang tidak terpakai, sehingga kami menginisiasi program sedekah barang kayak pakai dan barang bekas,” ujar Eliyyi Akbar.

Program yang digadang sebagai salah satu kegiatan maslahah ini, rupanya memiliki nilai filosofis yang mendalam sehingga sangat tepat dijalankan khususnya di Kota Madiun.

“Selain itu, program ini dibuat sebagai bentuk peningkatan sedekah. Shodaqoh tidak harus berupa uang, tapi barang bekas pun boleh. Kami menerima kardus, botol Aqua, gelas Aqua, koran, majalah, buku serta barang yang berjubel di lemari seperti sovenir yang over banyak,” jelas Eliyyi Akbar.

Perlu diketahui, program yang digagas sejak tanggal 16 oktober 2021 ini ternyata memiliki tujuan yang cukup serius.

Bahkan Eliyyi Akbar juga menjelaskan adanya program ‘Barberku’ ini akan mampu berdampak kepada masyarakat dan juga kepada Nahdlatul Ulama (NU) itu sendiri.

“Program ini bertujuan untuk mewujudkan kemandirian organisasi dalam penyelenggaraan semua kegiatan. Hasil dari ‘Barberku’ akan kembali kepada keluarga NU juga seperti santunan atau pemberian bantuan kepada keluarga yang membutuhkan. Jadi prinsipnya, dari NU dan untuk NU,” kata Eliyyi Akbar .

Meski termasuk program yang jarang ditemui di Banom NU yang lain, ‘Barberku’ ternyata mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat.

“Ternyata program ini sangat luar biasa mendapatkan antusias dari masyarakat. banyak yang memberikan barang bekas seperti televisi, baju sangat layak pakai, sound, dan lainnya,” imbuhnya.

Setelah semua barang bekas berkualitas tersebut terkumpul, maka tim LKKNU akan membuka bazar untuk kemudian menjualnya dengan harga seikhlasnya.



“Baju layak pakai ini di bazarkan dengan harga seikhlasnya, barang bekas lainnya juga dijual kembali dan hasilnya disalurkan kepada anak-anak yatim, piatu, yatim piatu serta anak yang memang membutuhkan,” pungkasnya.***

📝 Intan Gandhini

Tuesday, September 20, 2022

BERIKAN JABATAN PADA AHLINYA

BERIKAN JABATAN PADA AHLINYA

Kepemimpinan adalah amanah, sehingga orang yang menjadi pemimpin berarti ia tengah memikul amanah. Dengan demikian tugas menjadi pemimpin itu berat, sehingga sudah sewajarnya jika yang menjadi pemimpin itu orang-orang yang cakap dalam bidangnya. Kalau orang yang tidak berkompeten menjadi pemimpin maka yang akan terjadi adalah kerusakan Rasulullah SAW dawuh, "Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat. Ada yang bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah?" Beliau menjawab: "Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat." [HR. Imam Bukhori]




Kepemimpinan juga tidak layak diberikan kepada yang tidak berkompeten. Diriwayatkan dari Sayyidina Abu Dzar, ia berkata, "Aku menyatakan, 'Ya Rasulullah tidaklah Anda berminat memberikan sebuah jabatan?' Lalu Beliau menepuk-nepuk pundakku dan berkata, 'Wahai Abu Dzar, kamu seorang yang lemah sementara jabatan adalah sebuah amanah dan sebab kesedihan dan penyesalan di hari kiamat nanti, kecuali orang yang mengambilnya dengan yang haq dan melaksanakan semua kewajiban'." [HR. Imam Muslim]


Masih diriwayatkan dari Sayyidina Abu Dzar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Abu Dzar, aku lihat engkau seorang yang lemah dan aku suka engkau mendapatkan sesuatu yang aku sendiri menyukainya. Jangan engkau memimpin dua orang dan janganlah kamu mengurus harta anak yatim." [HR. Imam Muslim]


Adapun orang yang pantas menjadi pemimpin dan dapat berlaku adil, maka akan mendapatkan keutamaan yang besar sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shohih seperti hadits: "Ada tujuh golongan yang Allah lindungi mereka pada hari kiamat, di antaranya imam (pemimpin) yang adil." Dan juga hadits yang menyebutkan bahwa orang-orang yang berbuat adil nanti di sisi Allah pada hari kiamat berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya.


Namun bersamaan dengan itu karena banyaknya bahaya dalam kepemimpinan tersebut, Rasulullah SAW memperingatkan agar jangan mengejar jabatan 


Ada sebagian orang menyatakan bolehnya meminta jabatan dengan dalil permintaan Nabi Yusuf AS kepada penguasa Mesir: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), "Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan." [QS. Yusuf: 55]


Namun, perlu diketahui bahwa permintaan Beliau ini bukan karena ambisi Beliau untuk memegang jabatan kepemimpinan. Namun semata karena keinginan Beliau untuk memberikan kemanfaatan kepada manusia secara umum sementara Beliau melihat dirinya memiliki kemampuan, kecakapan, amanah dan menjaga terhadap apa yang tidak mereka ketahui.


Ketahuilah wahai mereka yang sedang memperebutkan kursi jabatan dan kepemimpinan, sementara dia bukan orang yang pantas untuk mendudukinya, kelak pada hari kiamat kedudukan itu nantinya akan menjadi penyesalan karena ketidakmampuannya dalam menunaikan amanah sebagaimana mestinya.


Imam Al-Qodhi Al-Baidhowi berkata: "Karena itu tidak sepantasnya orang yang berakal, bergembira dan bersenang-senang dengan kelezatan yang diakhiri dengan penyesalan dan kerugian."

HAJI MAGHRUR

HAJI MAGHRUR

Sesungguhnya maksiat itu sudah jelas, taat pun sudah begitu gambling keterangannya. Yang masih samar-samar yaitu mendahulukan amalan yang lebih penting kemudian yang penting dan yang sedang-sedang saja.



Contohnya adalah: sebagian orang tidak menginfaqkan hartanya, karena untuk pergi haji yang kedua kali dan seterusnya dan membiarkan tetangganya kelaparan, begitu kata Hujjatul Islam Al Imam Al Ghozali.


Sahabat Ibnu Mas’ud pernah berucap: Pada akhir zaman nanti akan banyak seseorang yang pulang pergi haji berkali-kali, sedangkan kembali ke rumahnya dalam keadaan amal yang terhalangi. Hal itu disebabkan tidak peduli pada masyarakat sekitar.


Sebuah kisah indah, tertuliskan dalam kitab-kitab salaf. Seorang laki-laki mau berpamitan untuk melaksanakan ibadah haji pada Kyai Bisr al-Hafi. Terjadilah percakapan. Wahai Syeikh aku mau pergi haji, ada yang didawuhkan untukku?


Tanya seorang laki-laki tersebut. Kyai Bisr balik bertanya: “Berapa yang engkau persiapkan untuk haji?”, “2000 dirham,” jawabnya. “Apa yang engkau niatkan dalam berhaji? Jalan-jalan, atau kangen saja pada Baitulloh atau untuk mencari ridho Alloh.” “Keridhoan Allah,” jawabnya.


Jika kamu ingin ridho Allah, kembalilah saja ke rumahmu, berikan 2000 dirham itu kepada yang berhak dan yakinlah bahwa itu akan mendapatkan keridhoan Allah, apa kamu mau?

Tantangnya. Ya. Jawab laki-laki yang sowan pada Kyai Bisr.


Kalau begitu pergi dan bagikan uang itu. Banyak disana orang yang tidak bisa bayar hutang, faqir miskin yang masih kelaparan, orang yang kesakitan dan tidak bisa membayar biaya dokter, dan banyak anak yatim yang ingin dibahagiakan. 


Engkau membahagiakan seorang muslim, menolong orang yang dalam keadaan sakit menolong orang yang lemah itu lebih baik darimu daripada seratus kali haji. Berdirilah, pergi dan bagikan apa yang telah aku perintahkan padamu, jika tidak, jangan pernah lagi menjengukku. Dawuh Kyai Bisr.


Baiklah sesungguhnya ridho Allah lebih aku cari daripada hanya bepergian haji yang sudah berulang kali. Jawab santun sang murid. Tersenyumlah Kyai Bisr al-Hafi dan berkata: “Sesungguhnya jual beli yang bersih dari perkara haram dan syubhat hartanya akan menarik pada sang pelaku untuk terus berbuat baik.”


Masih pendapat Imam al-Ghozali yang dicuplik dari kitab Al-Ghurur: “Barangsiapa yang berkecukupan dan tidak mau menafkahi orang tuanya malah lebih mendahulukan hajinya maka barangkali hajinya akan menjadi maghrur (tertipu).”


Syekh al-Qordhowi pernah memberikan fatwa: Sesungguhnya infaq pada jam’iyyah pesantren, madrasah, yayasan dll itu lebih baik daripada haji tathowwu’ dan karena ini juga untuk memberikan kesempatan haji pada muslimin yang belum melaksanakannya.


Semoga yang saat ini berhaji, hajinya dimabrurkan oleh Allah, dan kita yang belum pernah melaksanakan semoga segera dipanggil.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB


Empat Renungan Hilangkan Kesombongan

Empat Renungan Hilangkan Kesombongan

Suatu ketika, Allah mengumpulkan para nabi pilihan. Dan Allah bertanya kepada mereka satu persatu. Pertama adalah Nabi Adam AS. “Ya Adam, man anta? (Wahai Adam, kamu ini siapa?)”. Nabi Adam AS menjawab, “Ana shofiyullah (saya adalah pilihan Allah dan bapaknya manusia)”. Kedua Nabi Ibrahim ditanya, “Ya Ibrahim man anta? (Wahai Ibrahim, kamu siapa?)”. “Ana kholilullah (saya adalah kekasih Allah),” jawab Nabi Ibrahim AS. Ketiga, Nabi Musa AS ditanya, “Ya Musa, man anta? (Wahai Musa, kamu ini siapa)”. Jawab Nabi Musa, “Ana kaliimullah (saya adalah orang yang diajak bicara langsung oleh Allah). Keempat, Nabi Isa AS. “Ya Isa, man anta? (Wahai Isa, kamu ini siapa?)”. Nabi Isa AS menjawab, “Ana ruuhullah (saya adalah ruh yang ditiupkan Allah).” Dan yang terakhir, Kanjeng Nabi Muhammad ditanya, “Ya Muhammad, man anta? (Wahai Muhammad, kamu ini siapa?)”. Nabi Muhammad SAW yang bergelar habiibullah (kekasih Allah) tidak jawab seperti itu. Beliau hanya menjawab, “Ana yatiim (saya hanya seorang yatim). Subhanallah, itulah keistimewaan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang memiliki ketawadhuan yang luar biasa.




Tawadhu’ adalah sifat yang sangat terpuji. Sebaliknya sombong adalah termasuk akhlaknya tercela yang dibenci oleh Allah SWT. Kanjeng Nabi SAW wanti-wanti tentang bahayanya orang yang punya penyakit hati sombong, “Laa yadkhulul jannata man kana fi qalbihi mitsqaalu dzarrotin min kibrin” (Tidak bisa masuk surga orang yang di hatinya ada rasa takabbur walau sebesar sawi” MasyaAllah, meskipun hanya sedikit sifat sombong, itu bisa menghalangi seseorang untuk masuk surga.


Nah, karena begitu bahayanya akibat sifat sombong ini, maka hati kita harus dibersihkan dari kesombongan. Kalau ingin hati kita bebas dari rasa sombong dan rasa males ibadah, ada empat hal yang harus kita angen-angen atau renungkan setiap saat.


Pertama, saya ini akan mati umur berapa? Tidak ada yang tahu kapan matinya. Kalau kita angen-angen, saya mati umur berapa kira-kira? Maka kita akan waspada. Dan, sombong juga akan hilang. Lha, urusan umur saja kita tidak tahu kok. Karena tidak tahu sampai kapan, kita akan terdorong untuk sregep ibadah.


Kedua, kita angen-angen, nanti kalau kita mati, apa husnul khotimah atau suul khotimah. Ini adalah misteri. Oleh karena itu kita harus waspada dan jaga diri. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita, maka kita tidak pantas menyombongkan diri.


Ketiga, saat manusia dimasukkan kea lam kubur, akan ditanya malaikat munkar nakir. Nah, pertanyaannya, kita bisa jawab apa tidak pertanyaan malaikat munkar nakir.


Keempat, nanti di akhirat manusia itu dibagi dua golongan. Ada golongan kanan (ashabul yamin) alias masuk surga dan ada golongan kiri (ashabus syimaal) dimasukkan ke neraka. Pertanyaannya, kita termasuk golongan yang mana?


Selanjutnya, Imam Ghozali mengatakan, kalau kita punya perasaan lebih baik dari orang lain, itu termasuk kesombongan sekaligus sebuah kebodohan yang sejati.


Manusia mengaku baik itu dari sisi apanya. Dari ilmu, ilmu ya dari Allah. Harta semua pemberian Allah, bahkan, badan dan nyawanya juga milik Allah SWT. Alangkah tidak layaknya kita bersikap sombong.


Ada sahabat, bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Kanjeng Nabi, seorang laki-laki ingin memakai pakaian yang bagus, sandal yang bagus, apa itu termasuk kesombongan.” Nabi SAW dawuh, “Innallaaha jamiilun yuhibbul jamal, (sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan suka senang dengan sesuatu yang indah). Selama hatinya tidak diisi rasa sombong atau merasa lebih baik dari yang lain, itu bukan termasuk kesombongan.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB


Sahabat Umar lebih hebat daripada Nabi?

Sahabat Umar lebih hebat daripada Nabi?

Ibrah Peristiwa Hijrah



Ketika penyiksaan, dan permusuhan kaum Musyrik Mekkah semakin menjadi-jadi, sehingga Rasulullah mengizinkan para sahabatnya hijrah ke Madinah. Dalam hijrah ini tak seorangpun dari sahabat Rasul, yang berani hijrah secara terang-terangan kecuali sahabat Umar.


Diriwayatkan dari Sahabat Ali, ketika sahabat Umar hendak berhijrah, ia membawa pedang, busur, panah, dan tongkat di tangannya menuju ka'bah. Sembari disaksikan oleh tokoh-tokoh Quraisy, sahabat Umar melaksanakan thawaf tujuh kali dengan tenang. Setelah itu, ia datang ke Maqam (ibrahim) mengerjakan shalat, kemudian berdiri seraya berkata "semoga celakalah wajah-wajah ini! wajah-wajah inilah yang akan dikalahkan Allah! barang siapa ingin ibunya kehilangan anaknya, istrinya menjadi danda, atau anaknya menjadi yatim piatu, hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini".


selanjutnya sahabat Ali mengatakan "tidak seorangpun berani mengikuti Umar kecuali beberapa kaum lemah yang telah diberi tahu oleh Umar. Umar kemudian berjalan dengan aman.

lalu bagaimana dengan hijrahnya Rasulullah Saw? tidak seperti sahabat Umar, sang Rasul ternyata seperti umumnya para sahabat ketika berhijrah. Tidak hanya itu beberapa strategi dilakukan Nabi dalam hijrahnya, seperti menempatkan Sayidina Ali di ranjang beliau untuk mengelabui pengepung Quraisy, menginap beberapa hari gua hari di gua tsur, lalu mengambil jalan rahasia menuju Madinah, belum lagi ancaman pengejaran, yang pernah dicoba oleh Suraqah bin Ja'tsam (meskipun gagal).


Kenapa sekaliber Rasul harus susah payah ketika berhijrah, kenapa tidak seperti sahabat Umar yang pergi tanpa gangguan sedikit pun? Jawabannya sederhana “karena sahabat Umar bukanlah Nabi!”. Sudah kita tahu Nabi ialah rahmat bagi semesta Alam, yang segala tindak laku beliau adalah pembelajaran dan contoh yang paling mudah dijalankan, bagi semua umatnya, bukan hanya orang atau kalangan tertentu. apakah semua umat Nabi mampu seperti sahabat Umar?


Walahu a'lam

Syafaat Anak Yatim di Akhirat

Syafaat Anak Yatim di Akhirat

Allah SWT menyebutkan anak yatim dalam Al-Qur'an sebanyak 23 kali. Hal ini menunjukkan kesungguhan Allah agar ummat Islam benar-benar memperhatikan anak yatim. Mereka adalah anak-anak yang paling lemah di dunia. Menurut Imam Rosyid al-Asfahami pakar kamus Al-Qur'an, istilah yatim bagi manusia dimaksudkan untuk anak yang ditinggal mati oleh ayahnya dalam keadaan belum dewasa. Sedangkan untuk hewan dimaksudkan yatim ialah ditinggal mati oleh induknya.




Istilah ini berbeda dalam penggunaannya, karena dalam realitanya pun berbeda. Bagi hewan yang bertanggung jawab mengurus dan memberi makan anaknya adalah induknya. Sedang manusia yatim, yang wajib memberi makan adalah ayahnya. Selanjutnya Imam al-Asfahami berkata bahwa kata yatim juga digunakan untuk setiap orang yang hidup sendiri, tanpa kawan dan teman, sebab kata yatim berasal dari "yatm" yang artinya kesendirian. 


Oleh karena anak yatim itu merupakan manusia paling lemah, maka kewajiban untuk memperhatikan nasib mereka dibebankan kepada ummat Islam secara umum, agar kelangsungan hidup mereka tidak terhenti. Sebenarnya anak yatim merupakan asset bagi suatu masyarakat dan bangsa, bahkan ummat manusia seluruhnya. Manakala mereka telah dewasa mereka akan bermanfaat bagi manusia karena setiap manusia oleh Allah diberi potensi masing-masing bahkan ada yang menjadi pemimpin sebagaimana Rasulullah SAW.


Rasulullah SAW ketika lahir sudah ditinggal wafat ayahnya dan pada usia enam tahun ditinggal wafat ibunya. Dengan demikian di kalangan anak-anak yatim itu terdapat calon-calon manusia potensial yang perlu dikembangkan dan tidak boleh diabaikan. Di tengah-tengah mereka terdapat kandidat-kandidat usahawan, ulama', cendekiawan pandai, pejabat pemerintahan dan sebagainya yang semua itu pasti dibutuhkan pada saatnya nanti.


YATIM DALAM AL-QUR'AN

Dalam Al-Qur'an di berbagai Surat dengan berbagai macam redaksi, posisi anak yatim dalam posisi yang mulia, di antaranya yang sangat penting yaitu:

1. Orang yang tidak peduli anak yatim disebut pendusta agama, sebagaimana tercantum dalam surat Al-Maun ayat 1-2.

2. Anak yatim tidak boleh didzholimi. [QS. Ad-Duha: 9]

3. Anak yatim harus diperlakukan dengan baik, adil dan manusiawi. [QS. Al-Baqoroh: 83]

4. Anak yatim harus dimuliakan. [QS. Al-Baqoroh: 220]

5. Harus dipikirkan kelangsungan hidup anak yatim. [QS. Al-Baqoroh: 177]

6. Anak yatim berhak atas harta rampasan perang. [QS. Al-Anfal: 41]

7. Harta anak yatim tidak boleh dimakan atau disalahgunakan. [QS. Al-An'am: 152]

8. Ancaman bagi mereka yang memakan harta anak yatim. [QS. An-Nisa': 10]

9. Menyerahkan harta mereka kala dewasa. [QS. An-Nisa': 6]

10. Memberikan makanan anak yatim tanpa pamrih adalah merupakan perbuatan terpuji. [QS. Al-Insan: 8-9]


Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda "Saya dan penanggung anak yatim di surga seperti dua jari ini" (jari telunjuk dan jari tengah) karena dekatnya. Seorang ulama pernah menuturkan bahwa dahulunya ia seorang yang bergelimang dosa dan suka mabuk, pada suatu ketika dia mendapati seorang anak yatim yang miskin. Anak itu dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang sebagaimana anaknya sendiri. Pada suatu malam dia bermimpi bahwa hari kiamat telah datang dia diseret ke neraka karena dosa-dosanya dengan hina. Kemudian anak yatim tersebut menghadang di jalan sambil berkata pada malaikat: "Tolong lepaskan wahai malaikat, saya meminta tolong pada Tuhanku karena dia telah memuliakan aku." Para malaikat menjawab "Kami tidak diperintahkan untuk itu". Kemudian terdengarlah panggilan dari arah ilahi: "Lepaskanlah dia dengan syafaat anak yatim itu, sebab ia telah berbuat baik kepadanya. Kemudian setelah aku terbangun dari tidur itu aku terus bertaubat kepada Allah SWT dan bersungguh-sungguh aku menyayangi anak-anak yatim." [Dalailul Sailin: 626]


Monday, September 19, 2022

MISTERI RABU WEKASAN

MISTERI RABU WEKASAN

Rabu Wekasan yang sering kita dengar bahwa hari itu adalah hari yang penuh bala' dan musibah, bahkan selama setahun penuh diturunkan pada hari Rabu tersebut. Ketahuilah bahwa tidak ada satupun riwayat dari Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Rabu Akhir Shofar adalah hari nahas atau penuh bala'. Hanya saja disebutkan dalam kitab Kanzun Najah was Suruur, sebagian ulama Ahli Kasyf (ulama yang memiliki kemampuan melihat sesuatu yang samar) berkata: "Setiap tahun turun ke dunia 320.000 bala' (bencana) dan semua itu diturunkan oleh Allah pada hari Rabu akhir bulan Shofar, maka hari itu adalah hari yang paling sulit."




Oleh karena itu, jangan pesimis dan merasa ketakutan jika menghadapi Rabu Wekasan. Sekali lagi harus diingat bahwa yang menurunkan bala' dan membuat kemanfaatan atau bahaya adalah Allah SWT dan atas kehendak-Nya, bukan karena hari tertentu atau perputaran matahari 


Bahkan kalau kita mau bersikap obyektif, ternyata hari Rabu adalah h






ari yang penuh keberkahan. Seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman bahwa doa dikabulkan pada hari Rabu setelah Zawaal (tergelincirnya matahari). Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Jabir bin Abdillah, bahwa Nabi Muhammad SAW mendatangi Masjid Al-Ahzab pada hari Senin, Selasa dan Rabu antara Dzhuhur dan Ashar, kemudian beliau meletakkan serbannya dan berdiri lalu berdoa. Sayyidina Jabir berkata: "Kami melihat kegembiraan memancar dari wajah Beliau." Demikian disebutkan dalam kitab-kitab sejarah (Kanzun Najah was Suruur)


Kalau kita menganggap bahwa hari Rabu Wekasan adalah hari penuh bala', lalu bagaimana dengan hari lainnya? Padahal Allah jika hendak menurunkan azab atau bala' tidak akan menunggu hari-hari tertentu yang dipilih dan ditentukan oleh manusia. Tapi Allah dengan kekuasaan-Nya dapat bertindak dan berbuat sekehendak-Nya.


Maka seharusnya kita waspada dengan kemurkaan Allah setiap hari dan setiap saat, sebab kita tidak tahu kapan bala' itu akan turun. Maka perbanyaklah istighfar, bertaubat dan mengharap Rahmat Allah, sebagaimana Rasulullah beristighfar 100 setiap hari. Inilah teladan kita, tidak menunggu Rabu Wekasan saja untuk Istighfar dan bertaubat.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB

Saturday, September 17, 2022

Rencana Strategis LP Ma'arif NU Kota Madiun dalam Menyambut Harlah ke-93

Rencana Strategis LP Ma'arif NU Kota Madiun dalam Menyambut Harlah ke-93

Yayasan dan Madrasah Berbasis NU Harap Bersiap, Inilah Wujud Sinergi LP Ma’arif NU Kota Madiun

LP Ma’arif NU Kota Madiun menggelar agenda peringatan Harlah LP Ma’arif NU Ke-93 di Aula MAN 2 Kota Madiun.

Peringatan Harlah ini dihadiri oleh ketua Rais Suriyah Kabupaten dan Kota Madiun, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten dan Kota Madiun, Ketua LP Ma’arif Kabupaten dan Kota Madiun, serta beberapa undangan lainnya.

Dalam satu kesempatan, Ketua LP Ma’arif NU Kota Madiun menjelaskan urgensitas peringatan Harlah kali ini, dimana ada beberapa tujuan yang ingin dicapai serta beberapa hal juga yang akan disampaikan kepada seluruh banom NU.

Ketua LP Ma’arif NU Kota Madiun, Dr. Sudjianto M.Pd.I, menjelaskan bahwa agenda Harlah ini bisa menjadi salah satu kesempatan antara LP Ma’arif untuk mewujudkan harapan besar kepada lembaga NU.

“Agenda Harlah ini selain menjadi kesempatan untuk silaturrahmi, juga dalam rangka Harlah LP Ma’arif ke-93, harapannya akan memperkuat sinergi antara elemen yang ada di NU, baik di Kabupaten maupun Kota Madiun,” kata Sudjianto.


Lebih lanjut, Sudjianto juga menuturkan dengan adanya sinergi ini nanti harapannya akan bisa memperkuat hubungan antara Kabupaten dan Kota Madiun kedepannya.

“Kabupaten Madiun dan Kota Madiun ini tidak bisa dipisahkan antara, karena jika dilihat secara historis maka sebenarnya keduanya itu menjadi satu kesatuan,” ucap Sudjianto.

Sudjianto juga tidak lupa memberikan penjelasan bahwa LP Ma’arif NU harus mampu melakukan penguatan gerakan Ma’arif, khususnya di Kota Madiun. Pihaknya juga menerangkan bahwa sudah ada beberapa upaya upaya yang mendukung adanya gerakan Ma’arif tersebut.

“Kita akan menyemarakkan dan memperkuat gerakan Ma’arif, meskipun LP Ma’arif baru dirintis, baru beberapa tahun ini, tetapi akan mulai kita gerakkan di Kabupaten dan Kota Madiun. Sebagai contoh, Lembaga Ma’arif PCNU Kota Madiun telah berupaya dalam membangun gedung, membuat sekolahan, menerima siswa baru dan alhamdulillah akan diserahkan Ijop penyelenggaraan pendidikan LP Ma’arif yang tahun ini mendirikan MI Tanfidzul Qur’an NU Kota Madiun,” imbuh Sudjianto.

Ada beberapa rancangan langkah dan pandangan besar oleh Ketua LP Ma’arif NU Kota Madiun ini khususnya kepada yayasan dan madrasah yang berbasis NU.

“Dengan adanya sinergitas antara yayasan dan madrasah berbasis NU dengan LP Ma’arif kedepannya akan memperoleh beberapa kemudahan, diantaranya jika akan mengajukan suatu hal kepada pusat maka bisa terlihat apakah menjadi bagian dari LP Ma’arif atau bukan, dan mempermudah para guru untuk mendapatkan bantuan berupa bimtek maupun pelatihan yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif pusat mapun daerah,” jelasnya.


Selain berdampak kepada lembaga dan guru, kedepannya para siswa juga mendapatkan kemudahan seperti lebih mudah memperoleh beasiswa.

“Selama ini untuk siswa yang ingin mendapatkan beasiswa maka akan memohon rekomendasi dari LP Ma’arif, sebab LP Ma’arif telah melakukan MoU dengan perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS),” tambahnya.

Kemudahannya kelak adalah jika suatu lembaga sudah teregistrasi kepada LP Ma’arif maka tidak perlu ada rekomendasi, tetapi cukup menggunakan ijazah yang dikeluarkan oleh LP Ma’arif, meskipun pendidikan diselenggarakan oleh pihak yayasan.

Lebih lanjut, Sudjianto juga menuturkan kedepannya akan ada upaya dari LP Ma’arif Kota Madiun seperti menambah lembaga baru di bawah naungan LP Ma’arif Kota Madiun dan PCNU Kota Madiun, dan menurut rencana akan mendirikan Madrasah Tsanawiyah.

“Sosialisasi kepada yayasan dan madrasah berbasis NU untuk membangun sinergitas kedepannya, seperti akan mendirikan lembaga pendidikan setingkat MTs, dan akan dipaparkan pada saat sarasehan nanti untuk membangun sinergitas bersama LP Ma’arif,” tandasnya.***

Friday, September 16, 2022

Peringatan Harlah LP Ma'arif NU ke-93 Ajang Sinergitas Antar Lembaga

Peringatan Harlah LP Ma'arif NU ke-93 Ajang Sinergitas Antar Lembaga



Gelar Peringatan Harlah LP Ma’arif NU Ke-93, Ketua LP Ma’arif NU Kota Madiun Sampaikan Hal Ini

LTNNU Kota Madiun.com – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kota Madiun menggelar Peringatan Hari Lahir LP Ma’arif NU yang ke-93 pada Jumat, 16 September 2022.


Acara Harlah ini digelar di Aula MAN 2 Kota Madiun, dengan dihadiri oleh ketua Rais Suriyah Kabupaten dan Kota Madiun, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten dan Kota Madiun, Ketua LP Ma’arif Kabupaten dan Kota Madiun, dan juga beberapa undangan lainnya.

Peringatan Harlah LP Ma’arif NU ini dibuka pada pukul 20.00 WIB, dan mengusung tema besar yaitu: “Bergerak Bersama untuk Bangkit dan Bermartabat”.

Berikut rangkaian acara pada Harlah LP Ma’arif NU Ke-93, yang juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube NUTV Kota Madiun.

1. Pembukaan

2. Pembacaan ayat suci al-qur’an

3. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubbanul Wathan, dan Mars LP Ma’arif

4. Sambutan

5. Penyerahan Ijop Penyelenggaraan Pendidikan MI Tanfidzul Qur’an Kota Madiun

6. Doa

Dalam rangkaian acara tersebut, Ketua PC LP Ma’arif NU Kota Madiun, Dr. Sudjianto M.Pd.I, menyampaikan beberapa hal pada saat mengisi sambutan pada rangkaian Harlah.

Pihaknya menjelaskan bahwa agenda peringatan Harlah ini bukan hanya sekadar acara biasa saja, melainkan akan ada poin utama sebagai pandangan umum LP Ma’arif NU kedepannya.

“Agenda Harlah malam ini selain sebagai kesempatan untuk sosialisasi sekaligus silaturrahmi, juga dalam rangka Harlah LP Ma’arif ke-93, harapannya akan memperkuat sinergi antara elemen yang ada di NU, baik di Kabupaten maupun Kota Madiun,” ujar Sudjianto.

Sudjianto juga menyampaikan bahwa hal itu diperkuat dengan adanya landasan historis yang memperkuat hubungan antara Kabupaten dan Kotaa Madiun, sehingga agenda ini dilaksanakans secara bersama.

“Tidak bisa dipisahkan antara Kabupaten Madiun dan Kota Madiun, karena secara historis merupakan satu kesatuan,” kata Sudjianto.

Ketua LP Ma’arif NU Kota Madiun tersebut juga menegaskan bahwa mulai hari ini, akan ada penguatan gerakan Ma’arif di Kota Madiun.

“Kita akan menyemarakkan dan memperkuat gerakan Ma’arif, meskipun LP Ma’arif baru dirintis, baru beberapa tahun ini, tetapi akan mulai kita gerakkan di Kabupaten dan Kota Madiun,” imbuhnya.

Sejalan dengan hal itu, Sudjianto juga menjelaskan bahwa sudah ada beberaa upaya yang dilaksanakan oleh LP Ma’arif Kota Madiun dalam hal gerakan Ma’arif.

“Lembaga Ma’arif PCNU Kota Madiun telah berupaya dalam membangun gedung, membuat sekolahan, menerima siswa baru dan alhamdulillah akan diserahkan Ijop penyelenggaraan pendidikan LP Ma’arif yang tahun ini mendirikan MI Tanfidzul Qur’an NU Kota Madiun,” kata Sudjianto.


Bahkan, Sudjianto juga menuturkan kedepannya akan ada upaya dari LP Ma’arif Kota Madiun seperti akan menambah lembaga baru di bawah naungan LP Ma’arif Kota Madiun dan PCNU Kota Madiun, karena sudah mendapatkan wakaf baru, sehingga rencananya akan mendirikan Madrasah Tsanawiyah.

“Sosialisasi kepada yayasan dan madrasah berbasis NU, yang akan dipaparkan pada saat sarasehan nanti untuk membangun sinergitas bersama LP Ma’arif,” tambah Sudjianto.

“Tentunya dengan adanya sinergitas antara yayasan dan madrasah berbasis NU dengan LP Ma’arif kelak akan memperoleh beberapa kemudahan, diantaranya jika akan mengajukan suatu hal kepada pusat maka bisa terlihat apakah menjadi bagian dari LP Ma’arif atau bukan, dan mempermudah para guru untuk mendapatkan bantuan berupa bimtek maupun pelatihan yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif pusat mapun daerah,” ucap Sudjianto.

Selanjutnya untuk siswa yang sudah teregistrasi dengan LP Ma’arif akan lebih mudah memperoleh beasiswa, sebab LP Ma’arif telah melakukan MoU dengan perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).

“Dan di Kota Madiun masih banyak yang belum terambil, bahkan selama ini untuk siswa yang ingin mendapatkan beasiswa maka akan memohon rekomendasi dari LP Ma’arif,” ucap Sudjianto.

Sudjianto menuturkan jika suatu lembaga sudah teregistrasi kepada LP Ma’arif maka tidak perlu ada rekomendasi, tetapi hanya dengan menggunakan ijazah yang dikeluarkan oleh LP Ma’arif sudah bisa digunakan, meskipun diselenggarakan oleh pihak yayasan.

Terakhir, kedepannya LP Ma’arif akan ada program keaswajaan, berupa pelatihan TOT Guru Aswaja, yang melibatkan guru berbasis NU di Kota Madiun, dan menurut rencana akan dilaksanakan pada bulan Desember mendatang.

Semoga bermanfaat untuk kita semua.***

📝 : pewarta LTN NU Kota Madiun

📷 : NUTV Kota Madiun

Wednesday, September 7, 2022

Jangan Urungkan Niat Memondokkan Anak Karena Satu Kasus

Jangan Urungkan Niat Memondokkan Anak Karena Satu Kasus

Belakangan ini hampir di seluruh platform media sosial dihebohkan dengan adanya kasus penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seorang santri di salah satu Pondok. Gus Hariyoyo selaku Ketua PC Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kota Madiun mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya santri tersebut.


Kasus yang disinyalir adanya kesalahpahaman antara kedua belah pihak ini memang begitu menohok hati masyarakat, terlebih jika faktor pemicu aksi adalah senioritas dalam suatu lembaga. Pengasuh Ponpes Al Hikmah Sembungan Kota Madiun ini mengatakan sepakat pada senioritas asal sesuai dengan apa yang dimaksudkan Kanjeng Nabi SAW, yakni yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.


Gus Yoyok (sapaan akrab beliau) menghimbau kepada seluruh Pengasuh Pondok Pesantren di Kota Madiun khususnya yang berada di bawah naungan RMI NU untuk seringkali melakukan monitoring terhadap jalannya aktifitas di pesantren. Mengingat pondok pesantren inilah yang nantinya akan mencetak generasi-generasi yang akan bermanfaat dalam bermasyarakat dan juga insan yang dapat dijadikan uswatun hasanah dengan budi pekertinya. 


Kepada wali santri beliau berpesan agar tidak terlalu khawatir akan keadaan putra-putrinya yang berada di pesantren, pasrahkan semua kepada pengasuh dan tanamkan rasa saling percaya. Dan teruntuk orang tua yang ingin memondokkan anaknya, jangan urungkan niat mulia tersebut karena satu kasus ini sehingga menilai semua pondok pesantren seperti itu. Terlebih kasus inj juga telah dibawa ke ranah hukum. Dan juga kasus yang saat ini terjadi hanya 1:1000 atau bahkan 1:1.000.000 kemungkinan terjadi, jadi tidak bisa kasus semacam ini dijadikan representasi nilai seluruh pondok pesantren yang ada. (Madiun, 8/9/22) 


📝 : Haris Saputro

STEMPEL DOSA MAKANAN HARAM

STEMPEL DOSA MAKANAN HARAM

"Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka neraka lebih pantas untuknya”.



Hadits di atas sudah cukup populer dan sering disampaikan sebagai terdapat dalam kitab Kasyful Khofa’ karya Al Imam Al ‘Ajaluniy RA. Imam Sahl bin Abdillah Al Usturi, salah seorang ulama salaf berkata, “Siapa memakan yang haram, maka tubuhnya akan bermaksiat, dia mau atau tidak. Dan siapa yang memakan yang halal maka tubuhnya akan berbuat taat, dia mau atau tidak”. Pada masa kita ini, nyaris tidak ditemukan lagi orang yang waro’ kecuali sangat sedikit. Kebanyakan mereka telah terjerumus dalam keharaman. Ketahuilah bahwa hati ini akan menjadi gelap karena makanan haram, baik dia menyadari dan mengetahuinya atau tidak. Baiklah jika memang dia tidak mengetahui bahwa yang dimakannya adalah haram, ini mungkin agak ringan (tetapi tetap akan menyebabkan kegelapan hatinya).


Tapi yang dengan sengaja melakukannya maka celakalah dia, binasalah dia. Sebab siap memasukkan satu suapan haram pada tubuhnya maka sholatnya tidak diterima oleh Allah selama suapan itu masih berada dalam tubuhnya. Siapa yang sholat dengan baju yang di sana terdapat satu benang (kain) yang haram maka sholatnya tidak diterima oleh Allah selama baju itu melekat di tubuhnya. Lalu apa faedah yang akan didapat dari amalnya jika ternyata itu semua tidak diterima? Bagaimana mungkin cahaya akan masuk ke dalam hati yang gelap gulita?


Saat ini, jika kita datang kepada sekelompok orang lalu membicarakan masalah kewaro’an, maka mereka akan berkata, “Sekarang manusia semua sudah makan yang haram. Di mana yang halal?” “Kamu mau makan apa?”


Ketahuilah bahwa kata-kata semacam ini adalah tidak sopan dan menentang (berani) kepada Allah SWT. Padahal bumi Allah sangatlah luas, jika dia mau berusaha pasti akan mendapatkan yang halal sekalipun dengan usaha yang keras. Yang lebih mengherankan lagi bahwa ada sebagian manusia yang berakal, memiliki pikiran, tetapi sengaja memakan yang haram padahal dia tahu bahwa dengan perbuatannya itu dia akan diadzab oleh Allah. Sebab jika dia melakukan itu dia akan terseret ke dalam neraka, maka tinggalkanlah makanan haram, pasti akan datang kepada kalian makanan yang halal.


Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Yang halal itu jelas dan antara keduanya adalah perkara yang syubhat (remang-remang), banyak manusia tidak mengetahui kejelasannya. Maka siapa yang menjaga diri dari barang syubhat ini, maka dia telah menjaga harga diri dan agamanya. Dan siapa yang terjerumus pada syubhat maka dia akan terjerumus pada yang haram, ibarat seorang pengembala yang menggembalakan kambingnya di dekat daerah larangan maka dia nyaris akan memasuki daerah larangan itu.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim]


Maka dari itu, jagalah diri kita dan keluarga kita terutama dari hal yang semacam ini, jangan sampai tubuh mereka terisi makanan syubhat apalagi haram, sekuat apapun usaha kita untuk mengarahkan mereka ke jalan yang lurus, namun jika makanan yang kita berikan tidak benar, maka akan sia-sia usaha tersebut. Dan kita larang mereka sekuat tenaga dari kemungkaran, maka itu pun akan sia-sia. Karena makanan haram telah mendarah daging dengan mereka.


Dalam sebuah atsar disebutkan: “Jika kalian banyak sholat sehingga menjadi seperti tiang-tiang, banyak berpuasa sehingga kurus kering seperti tali busur, semua ibadah itu tidak akan diterima kecuali jika dilandasi dengan kewaro’an yang tinggi”.


Al Habib Abdullah bin Alawiy Al Haddad RA dalam untaian nasehatnya menyatakan:

“Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian bahwa makanan halal akan menyinari hati dan melembutkannya dan menyebabkan adanya rasa takut kepada Allah dan khusyu’ kepada-Nya, memberikan semangat dan motivasi pada anggota tubuh untuk taat dan beribadah serta menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia dan kecintaan pada akhirat. Dan inilah sebab diterimanya amal-amal sholeh kita dan dikabulkannya doa-doa kita.


Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh, “Perbaguslah (jaga kehalalan) makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan”. “Adapun makanan haram dan syubhat maka kebalikan dari yang sudah disebutkan tadi, dia akan menyebabkan kekerasan hati dan menggelapkannya, mengikat (mengekang) tubuh dari ketaatan dan menjadikannya rakus terhadap dunia. Inilah sebab ditolaknya amal-amal ibadah dan doanya.”


Sebagaimana dalam sebuah hadits, di mana Rasulullah SAW menceritakan seorang musafir yang bajunya compang-camping, rambutnya berdebu (tidak terurus), dan dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (dengan suara lirih dan penuh harapan) dia berkata, “Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku”. Namun makanannya haram, minumannya haram, bajunya haram dan dimasukkan pada mulutnya makanan haram, maka bagaimana mungkin akan diterima doanya?.


Maka berusahalah mencari pekerjaan dan makan yang halal dan jauhilah keharaman. Dan ketahuilah bahwa kewaro’a ini tidak hanya pada makanan saja tapi mencakup semua aspek pekerjaan kita. Berbuat apapun harus dilandasi dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, jika masih ragu maka tinggalkanlah, khawatir akan terjerumus pada keharaman dan akibatnya pasti fatal.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB

Orang Miskin Lebih Cepat Masuk Surga

Orang Miskin Lebih Cepat Masuk Surga

Rasulullah SAW bersabda: “Aku berdiri di pintu, kebanyakan orang yang masuk surga adalah kaum miskin, ketika orang-orang kaya masih tertahan (untuk dihisab amalnya), kecuali ahli neraka, mereka diperintahkan (langsung) masuk neraka, maka aku berdiri di pintu neraka. Kebanyakan yang masuk neraka adalah kaum wanita.”




Dengan adanya hadits seperti ini bukan berarti Islam menganjurkan ummatnya untuk miskin, tidak begitu. Orang kaya pun bisa masuk surga dengan syarat beriman. Seperti para sahabat Nabi yang kaya semisal Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, Sayyidina Utsman bin Affan demikian juga dengan Sayyidatuna Khodijatul Kubro. Mereka ini adalah orang-orang kaya yang dijamin masuk surga. 


Sebaliknya, tidak semua orang miskin mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT. Sebab yang dimaksudkan orang miskin yang mulia di hadapan Allah SWT adalah orang miskin yang beriman, sabar dan mematuhi segala perintah dan larangan Allah SWT. Bukan sekedar asal miskin, sebab banyak orang miskin yang menjadi penjahat, ahli maksiat bahkan tidak beriman. Orang miskin seperti ini tidak termasuk golongan mereka yang masuk surga lebih dahulu. Bisa jadi orang miskin yang tidak beriman ini akan ditancapkan lebih dahulu dalam neraka.


Orang-orang miskin bisa masuk surga terlebih dahulu daripada orang kaya karena hisab mereka lebih cepat dibanding orang kaya karena hisab mereka lebih cepat dibanding orang-orang kaya, sedangkan orang kaya akan ditanya tentang hartanya diperoleh darimana dan dibelanjakan kemana? Harta yang diperoleh dengan cara yang halal saja akan dihisab, apalagi harta yang diperoleh dengan cara yang haram, tentu akan diadzab oleh Allah SWT. Karena banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada orang kaya, maka hisab mereka menjadi lama. Di sinila letak perbedaan antara kaum miskin dan kaya, mereka lebih dahulu masuk surga karena sedikit sekali perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, terutama yang berkaitan dengan harta.


Sewaktu di dunia orang miskin seringkali diremehkan, dihina, dan dipinggirkan. Sehingga sebagai batasan atas kesengsaraan orang miskin ketika hidup di dunia, Allah membalasnya dengan memasukkan orang-orang miskin terlebih dahulu daripada orang-orang kaya, dengan selisih yang amat lama. Berapa lama jarak antara orang-orang miskin yang masuk surga lebih dulu dengan orang-orang kaya? Ternyata jaraknya cukup lama, yaitu 500 tahun. Suatu masa yang sangat lama, penghuni surga sudah menikmati aneka hidangan yang lezat-lezat, dan berkumpul dengan bidadari dalam satu selimut, sementara orang-orang kaya masih berdiri di padang Mahsyar untuk dihisab amalnya. Selisih jarak yang cukup lama antara orang miskin dan orang kaya yang masuk surga ini telah diterangkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Sesungguhnya orang-orang fakir kaum Muhajirin masuk surga sebelum orang kaya. Mereka masuk kira-kira selisih waktu 500 tahun.” Ibnu Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai orang-orang fakir apakah aku tidak memberi kabar gembira padamu, sesungguhnya orang-orang mukmin yang fakir akan masuk surga sebelum orang-orang mukmin yang kaya dengan jarak setengah hari akhirat, yaitu 500 tahun.”


Abu Sa’id berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya orang-orang mukmin yang fakir bergembira bahwa mereka akan memperoleh kebahagiaan di hari kiamat sebelum orang-orang yang kaya dengan jarak 500 tahun. Mereka (orang-orang fakir) merasakan beberapa kenikmatan di surga sedang orang-orang kaya masih dihisab.” Ada pula hadits yang mengatakan selisihnya 40 kali musim rontok, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Amr RA.


Seseorang yang ditakdirkan oleh Allah menjadi orang yang lemah, baik itu karena badannya tidak kuat dan sering sakit-sakitan, atau karena miskin tidak punya harta, ataupun karena menjadi orang yang tidak dipedulikan dalam masyarakat karena miskin harta, hendaknya tidak perlu minder dan malu, serta merasa rendah. Karena Allah-lah yang telah menentukan keadaannya demikian. Yang terpenting baginya adalah berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah hakikat ketaqwaan. Kalau dia berusaha selalu istiqomah di dalam ketaqwaan tersebut, niscaya kedudukannya menjadi mulia di sisi Allah, walaupun di dunia ini tidak dihargai oleh manusia. Orang-orang yang lemah, tetapi tetap istiqomah dengan ketaqwaannya tersebut maka Allah SWT akan memberi kelebihan-kelebihan kepada mereka ketika di dunia diantara kelebihan-kelebihan tersebut adalah ketika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya. Orang-orang lemah dan miskin adalah penyebab turunnya barokah dan rezeki dari Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Kalau bukan karena binatang ternak, maka mereka tidak akan diberikan hujan.” [HR. Imam Ibnu Majah]



Orang-orang yang lemah dan miskin adalah para penangkal malapetaka. Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya kalau bukan karena para pemuda yang khusyu’, binatang ternak yang sedang mencari makan, anak-anak yang sedang menyusui, maka niscaya Allah akan menurunkan kepada kalian adzab.” [HR. Imam Abu Ya’la dan Imam Bazzar]


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB


6 Perkara Membuat Islam Terasa Hampa

6 Perkara Membuat Islam Terasa Hampa

Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya, “Seandainya seluruh penduduk negeri ini beriman, niscaya Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan dari dalam bumi. Tapi jika mereka kufur atas nikmat-nikmat Allah, maka mereka akan mendapatkan musibah, bala dan bencana.”




Sungguh, bala dan bencana, musibah kejadian buruk yang menimpa kita tidak akan berhenti sampai manusia benar-benar bertaqwa. Jangan mengharapkan keberkahan dan nikmat jika selama ini kita menggunakan nikmat-nikmat Allah untuk tenggelam dalam kemaksiatan dan kedzholiman.


Kedzholiman kian merajalela. Sogok menyogok dan korupsi yang sudah membudaya dan melembaga. Negeri ini sudah koma. Untuk bangkit, harus kembali pada Allah SWT. Perbaiki hubungan dengan hablum minallah, dengan sendirinya itu akan memperbaiki hablum minannaas kita. Bukan tanpa maksud jika sholat itu dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Dimulai dengan kekuatan aqidah dan diakhiri dengan akhlaq yang mulia, menyebarkan keselamatan.


Mari kita semua meningkatkan taqwa, kembali mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Kembali berdzikir dan taat kepada Allah. Dengan selalu mengingat Allah, mustahil maksiat akan terjadi. Orang-orang yang bertaqwa tidak mungkin korupsi. Orang-orang yang berdzikir tidak mungkin berbuat maksiat. Karena ia sangat cinta kepada Allah. Karena ia akan selalu berhati-hati dengan Allah.


Ingat, maksiat adalah magnet bagi bala. Maksiat selalu mengundang petaka. Dan bala akan terus menghebat kecuali kita kembali dan meminta perlindungan hanya pada Allah semata.


Lepas dan tinggalkan paham-paham sekuler yang selama ini mengepung kita. Semua yang terjadi sama sekali bukan kebetulan semata. Kita lahir bukan kebetulan. Kita mati juga bukan kebetulan. Musibah juga bukan kebetulan. Musibah selalu memiliki tiga unsur di dalamnya: adzab, peringatan, ujian.


Menjadi orang-orang yang beriman sungguh begitu nikmat dan mengagumkan. Dicurahkan nikmat ia bersyukur, dan itu baik untuknya. Diberi musibah ia bersabar, dan itu juga baik untuknya. Orang-orang beriman tak pernah dirundung kesusahan, karena tak ada kosakata rugi untuk mereka.


Sedangkan kemaksiatan akan selalu mengundang bencana. Alam tak lagi bersahabat dengan kita. Sebab alam selalu berdzikir kepada Allah. “Sungguh, bertasbih dan berdzikir semua apa yang ada di langit dan bumi ini. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


Manusia yang tak syukur dan tak berdzikir telah membuat alam murka. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Sesungguhnya, makhluk-Ku bumi ingin sekali menelan manusia karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Tapi semua itu tertahan karena masih ada hamba-hamba Allah yang berdzikir pada pagi dan malam.


Majelis dzikir bukanlah termenung di dalam masjid atau musholla. Jangan terjebak oleh ritualitas, sebab di seluruh permukaan bumi ini adalah majelis dzikir. Orang-orang yang mendirikan sholat dengan khusyu’, dia insyaaAllah berakhlaq mulia. Jika ada orang yang sholat namun akhlaqnya busuk. Pasti ia belum benar-benar mendirikan sholat khusyu’.


Kini banyak orang yang ibadahnya hampa, Islamnya tidak nyaman, alergi atas syariat Islam, padahal ia seorang Muslim dan setiap hari beribadah. Itu semua karena ada 6 hal yang menyelimuti hati dan jiwanya dengan begitu kuat.

1. Ia telah terlilit oleh nafsu;

2. Ia terkepung cinta pada dunia;

3. Ia telah dilumpuhkan oleh godaan syetan;

4. Ia selalu berperangai buruk;

5. Mencintai kebodohan dan;

6. Tak berdaya pada dosa-dosa yang terus menerus ia lakukan.


Saudaraku, mari pelan-pelan kita singkirkan halangan-halangan yang membatasi kita dengan Rahmat Allah itu. Dan dzikir adalah permulaan yang mulia. Dzikir ibarat sebuah palu godam yang mulai kita ayunkan untuk memukul hati yang sudah sekeras batu.


Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meraih kemenangan dan keberkahan. Pertama, perbanyak dzikir, tahajjud, memakmurkan masjid. Kedua, lakukan dan giatkan dakwah menyebarkan kebaikan pada manusia. Ketiga, jangan pernah berhenti belajar untuk menjadi yang lebih baik dari sekarang. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB


Tetesan Air Mata Rasulullah, Untuk Ayat Ampunan

Tetesan Air Mata Rasulullah, Untuk Ayat Ampunan

Taubat adalah pintu gerbang, menuju rahmat dan ampunan Allah. Tanpa ampunan dan rahmat kita akan celaka, rugi dan menderita. Bukankah, ayah kita semua, Nabi Adam AS mengajarkan kepada kita, betapa pentingnya, maghfirah dan rahmat Allah SWT. Sesampainya, di bumi Allah, Nabi Adam AS berdoa, “Robbana dzolamna anfusana wa inlam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunannaa minal khosirin.” (Yaa Allah Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah banyak menganiaya diri kami (melanggar perintah-Mu), jika Engkau tidak mengampuni kami, dan tidak merahmati kami, maka kami pasti masuk ke dalam golongan orang-orang yang rugi).




Bukalah mata hati kita, lihatlah seorang nabi dan rosul pun terus memohon maghfiroh dan rahmat Allah. Apalagi kita manusia biasa, yang telah banyak berbuat dosa, dan mengotori hati kita dengan kesombongan, tentu harus lebih banyak memohon ampunan dan rahmat dari Allah.


Saudaraku, jika kita mendengar sejarah Nabi Muhammad SAW, beliau adalah orang yang telah diampuni dosanya, baik dosa yang telah lalu, maupun dosa yang akan datang. Pada suatu malam, Beliau bangun dari tidurnya. Beliau mengambil air wudhu, menggelar sajadahnya, lalu mendirikan sholat menghadap Allah. Bayangkanlah, wahai saudaraku, seorang Nabi yang sedang khusyu’ dalam sholatnya. Seusai sholat, beliau membaca Al-Qur’an. Ketika membaca ayat tentang adzab-adzab bagi ummat terdahulu, beliau berhenti, karena teringat ummatnya. Ketahuilah, beliau sangat mencintai ummatnya. Cintamu kepadanya, tidak akan pernah mengalahkan cintanya kepadamu.


Beliau mengangkat tangannya, berdoa memohonkan ampun untuk ummatnya. Air mata itu telah membasahi pipinya. Kemudian datang Malaikat Jibril, menyapa dan bertanya kepada Beliau. Ya Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau menangis. “Jibril, pada malam ini aku sedang terbayang akan ummatku.” Jibril bertanya lagi, “Ada apa dengan ummatmu Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Aku khawatir terhadap mereka. Aku takut mereka mendapat adzab Allah, sebab mereka mendustakan ajaran Allah.”


Jibril kembali menghadap Allah, sedang Rasulullah melanjutkan munajatnya. Air matanya terus mengalir, sampai membasahi tempat sholatnya. Malaikat jibril menghadap kepada Allah, menyampaikan permohonan Rasulullah. Alloh Ar-Rahman dan Ar-Rahim, menjawab doa Rasulullah SAW. Jibril, sampaikan ayat ini kepada kekasih-Ku Muhammad, “Wa ma kaanallohu liyu’adzibahum wa anta fiihim.” (Allah tidak akan menghukum kaummu dengan adzab yang menghancurkan mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka).


Ya Rasulullah, hentikanlah tangisanmu. Sesungguhnya, Allah telah menjawab doamu. Jibrilpun membacakan wahyu dari Allah itu. Ternyata ayat ini tidak menghentikan tangisan Rasulullah. “Kenapa engkau tetap bersedih wahai Rasulullah?”, tanya Jibril. “Jibril, aku juga khawatir terhadap ummat yang hidup setelahku, bagaimana nasib mereka Jibril, apakah mereka tetap mendapat adzab Allah.” “Jibril, menghadaplah kepada Allah, katakana kalau Muhamad juga khawatir dengan ummatnya setelah ditinggalkannya nanti.”


Setelah Jibril menghadap Allah, Allah menyampaikan wahyu-Nya kembali. Wa makaanallohu mu’adzibahum wahum yastaghfiruun. (Allah juga tidak akan menghukum mereka, selama ada di antara mereka masih ada yang memohon ampun kepada Allah).


Kami berharap, kita semua tersentuh. Ini adalah zaman untuk bertaubat. Ini adalah waktu untuk kembali kepada Allah. Jangan ditunda-tunda. Menjauhlah dari kemaksiatan-kemaksiatan. Bahagiakanlah Nabi Muhammad SAW. Ayat itu telah turun dengan tetesan air mata Rasulullah SAW. Mari buat bangga Rasulullah SAW dengan memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB

Tanda-tanda Tawadhu’

Tanda-tanda Tawadhu’

Pengertian Tawadhu’

Tawadhu’ menurut istilah ahli sufi adalah menyerahkan diri kepada kebenaran dan meninggalkan berpaling pada hukum. [ath-Thuruq ash-Shufiyah, hlm. 265]




Dikatakan juga: “Tawadhu’ adalah tenangnya hati pada kebenaran, mengikuti dan menerima kebenaran itu, baik dari orang kaya, fakir, orang tua, anak kecil, orang mulia maupun orang yang rendah”. [ath-Thuruq ash-Shufiyah, hlm. 266]


Dasar Tawadhu’

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” [QS. Al-Furqon: 63] Maknanya: “Dengan khusyu”, dengan tawadhu.


Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. [QS. Asy-Syu’ara’: 215]


Nabi SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari sifat sombong.” Nabi SAW: “Tidaklah tawadhu’ seorang laki-laki kepada Allah SWT, kecuali Allah SWT mengangkat derajatnya”.


Tanda Tawadhu’

Tanda-tanda Tawadhu’ adalah apabila seseorang meyakini bahwa sesungguhnya orang lain itu lebih baik dari dirinya. [ath-Thuruq ash-Shufiyah, hlm. 270]


Imam Fudhoil berkata: “Barangsiapa melihat dirinya memiliki nilai-nilai (kelebihan), maka tidak ada baginya sikap tawadhu’”. [ath-Thuruq ash-Shufiyah, hlm. 270]


Imam Abu Yazid berkata: “Tanda-tanda tawadhu’ adalah seseorang yang tidak melihat makhluk lebih jelek dari dirinya”. [ath-Thuruq ash-Shufiyah, hlm. 270]


Nabi SAW bersabda: “Tidaklah ada anak cucu Adam, kecuali mempunyai sebuah hikmah dari Allah SWT. Ketika dia tawadhu’ maka dilaporkan kepada Allah SWT. Lalu Allah SWT berfirman: “Tampakkan hikmahnya!” Dan ketika dia sombong maka dilaporkan kepada Allah SWT “Hilangkan hikmahnya!” [ath-Thuruq ash-Shufiyah, hlm. 267]


Barangsiapa tawadhu’ kepada Allah SWT maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya. [ ash-Shufiyah, hlm. 267]


WALLAHU A’LAM BISH SHAWAB


Bahagianya Diingat Allah

Bahagianya Diingat Allah

Obat mujarab untuk penyakit hati yang paling utama, yang merupakan minuman segar setiap muslim, penyegar jiwa, pembersih hati, itulah “Dzikrullah”, setiap saat. Semakin banyak semakin segar semakin sering semakin tentram jiwa.




Orang seringkali menggambarkan pelaku dzikir sebagai sosok yang sedang duduk bersimpuh sembari tafakur sementara dari lisannya terdengar suara lembut dan syahdu bacaan doa tertentu dengan khusyu, khudu (rendah hati), dan tadlarru’. Dilengkapi dengan gerakan-gerakan tasbih untuk menghitung bacaan yang harus dipenuhi.


Dzikir bukan sekedar “eling”, dzikir punya konsep yang jelas, konsekuensi amaliah yang nyata karena bersumber dari Allah sendiri, bukan dari hasil renungan dan hayalan falsafi manusia yang serba nisbi dan nglantur karena kebingungan dan kehabisan bahan baku.


Ingat dan Diingat Allah

Ingatlah kepada Allah, maka Allah pun akan ingat kepada kita. Alangkah bahagianya bila Allah ingat pada kita. Sekedar perbandingan saja. Bila sekali waktu kita bertemu dan berjabat tangan dengan seorang presiden misalnya lantas kita mengenalkan diri. Di lain waktu kita bertemu lagi beliau masih ingat kepada kita. Betapa bangga dan senang rasanya. Beliau adalah pejabat yang dapat saja memberikan jabatan atau fasilitas sesuai yang kita minta.


Marilah kita renungkan, bila Allah yang Maha segala itu kepada kita kapan dan bagaimanapun. Kita tidak dilupakan oleh Allah yang memiliki segala fasilitas tanpa batas, tidak akan habis atau berkurang sedikitpun. Mengingat Allah bisa kita lakukan lewat dzikir. Oleh karena itu dzikir kepada Allah adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah. Ini berarti segala masalah duniawi yang kita ingat, harta, jabatan, istri, anak, hutang piutang simpanan di bank bahkan apa saja di dunia ini bukanlah tandingan dan bandingan dengan nikmatnya berdzikir kepada Allah SWT.


Bahkan kalau kita semakin banyak berdzikir dengan ingat masalah duniawi, maka akan semakin ruwet dan semrawut hati dan pikiran, semakin pusing dan tambah penat jasmani dan rohani. Tidak pernah merasakan dan kedamaian hidup. Tidak pernah bersyukur terhadap nikmat atau bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup. Sekali lagi, hanya dengan dzikir kepada Allah sajalah yang menjamin ketentraman dan ketenangan hati. Karena itu Allah mewanti-wanti kepada segenap mukmin janganlah sibuk mengurus harta dan keluarga melupakan dzikir kepada Allah. Memang di sisi harta dan keluarga menjadi sumber kesibukan dan keributan hidup sehari-hari. Dan di antara berniaga akibat lupa berdzikir kepada Allah adalah menghalangi rizki, menimbulkan jarak dengan Allah, menjauhkan pelaku dengan orang lain, menggelapkan hati, melemahkan hati dan perasaan, mematikan bisikan hati (bashirah).


Gembira dengan Kebajikan

Bagi seorang mukmin kegembiraan hadir ketika melakukan kebajikan. Sedangkan kesedihan akan menjelang tatkala dia berbuat dosa dan kesalahan. Ia gembira sebab setiap kebajikan pasti membawa kebahagiaan dan keuntungan baik bagi diri sendiri ataupun orang lain, sebagaimana pula bahwa setiap kesalahan atau dosa, pasti membawa kerugian dan kesengsaraan.


Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa merasa gembira atas kebajikan-kebajikannya dan merasa susah prihatin akan kejelekan-kejelekannya, maka dialah mukmin yang sebenarnya.” Itulah sebabnya para ulama sufi menyebutkan bahwa para ahli ibadah itu lebih senang dengan ibadahnya dibanding dengan senangnya seorang anak yang sedang bermain dengan mainannya.


Paling tidak ada dua penyebab utama kegembiraan dan kebahagiaan hidup, ketentram jiwa di dunia ini dan di akhirat kelak. Pertama, selalu ingat Allah SWT (dzikrullah). Dikala sholat, ia hadapkan wajahnya kepada pencipta langit dan bumi, bisikan hatinya selalu merasa dekat dengan Allah. Sebab Allah Maha dekat dengan hamba-Nya. Kedua, jika berbuat kesalahan maka ia akan bertaubat sesegara mungkin sebab ia yakin Allah Maha menerima taubat. Untuk itu marilah kita coba kemudian meneruskan segala konsep itu dengan istiqomah bukan hanya coba-coba, atau sekedar basa-basi.


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB


Demi Khusyu’, Tak Perlu Buru-Buru

Demi Khusyu’, Tak Perlu Buru-Buru

Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila sholat jama’ah telah dilaksanakan maka janganlah kamu semua mendatanginya dalam keadaan lari, datangilah sholat jama’ah dalam keadaan berjalan, dan kamu harus dalam keadaan tenang (sakinah), adapun roka’at yang kamu jumpai maka sholatlah dan apabila kamu tertinggal roka’at sholat maka sempurnakanlah (setelah imam salam.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim]




Sama-sama kita ketahui bersama, bahwa sholat jama’ah itu fadhilah atau keutamaannya luar biasa. Sholat berjama’ah sekali seakan-akan sama halnya kita sholat sendirian sebanyak dua puluh tujuh kali. Dengan sholat berjama’ah kita mendapatkan pahala tambahan yang sangat banyak. Mungkin sambil menunggu datangnya imam, kita duduk niat i’tikaf. Sambil menunggu imam, kita menunaikan sholat tahiyyatal masjid maka kita mendapatkan pahala. Ketika kita berjama’ah bertemu dengan teman-teman kita niati silaturrahmi maka kita mendapatkan pahala silaturrahim. Atau mungkin imamnya itu seorang alim dan kita berjama’ah sekalian berniat mencari ilmu meskipun hanya sedikit maka kita mendapatkan pahala mencari ilmu. Karena berkahnya sholat berjama’ah juga sangat besar, insyaaAllah orang yang rajin sholat berjama’ah rezekinya menjadi lancer, mati dalam keadaan husnul khotimah, dibebaskan dari ancaman siksa kubur, masuk surga tanpa melalui hisab, kalau pun ada hisab sangatlah ringan.


Namun setinggi apapun, sebesar apapun keutamaan sholat berjama’ah tentu yang namanya khusyu’ itu sangat penting. Sholat dengan tenang, hati tenang, konsentrasi, hati dan fikiran hati kita terang itu juga sangat penting, sebab khusyu’ itu menjadi ruhnya sholat. Sementara kalau kita terlalu semangat dalam berjama’ah meraih pahala yang sangat besar, lalu untuk mendatangi jama’ah kita lari, atau khawatir terlambat kemudian kita lari-lari ke masjid, maka sesampainya di masjid kita akan terengah-engah, nafas kita juga kurang teratur. Sholat dalam keadaan terengah-engah, bernafas besar, rasanya sulit untuk khusyu’. Dia mengejar pahala berjama’ah tapi kehilangan nyawa. Atau mungkin karena kita berlari-lari ke masjid kita akan jatuh atau tabrakan sehingga kita tidak jadi berjama’ah. Oleh karenanya, sebesar apapun pahala atau keutamaan agar khusyu’ itu tidak hilang, maka Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita janganlah kita mengejar sholat jama’ah dengan lari-lari. Tetap semangat untuk sholat berjama’ah tapi tidak perlu kita kejar dengan lari-lari agar sholatnya tetap khusyu’, hati dalam keadaan tenang, tidak jatuh atau tabrakan.


DATANG TERLAMBAT


Adapun permasalah kita terlambat jama’ah, nanti setelah imam salam kita menyempurnakan sendiri sebanyak roka’at yang tertinggal. Lalu bagaimana pahalanya? insyaaAllah pahalanya tetap dua puluh tujuh derajat, sebab niat kita sudah tercatat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim] dan orang tersebut sudah diberi pahala dengan niat.


Jadi, kalau orang itu berniat melakukan sebuah kebaikan lalu dia belum sempat mengerjakannya tapi dalam proses menuju kebaikan maka Allah SWT mencatatnya sepuluh kebaikan dan bisa dilipat gandakan lebih banyak lagi.


Dan solusinya agar kita tidak sampai berlari-lari dalam mengejar sholat jama’ah adalah kita harus bersiap-siap sholat sebelum waktu sholat tiba kita sudah berwudhu, berangkat dengan tenang, dan tidak perlu berlari-lari dan ini namanya at-tabkir (pagi-pagi/ menyegerakan berangkat sholat jama’ah). Dan ini menjadi solusi atau cara agar sholat kita menjadi tenang, konsentrasi dan tidak terengah-engah, tidak tergesa-gesa dan tidak terlambat.

WALLAHU A’LAM BISH SHAWAB


Menundukkan dan Menggerakkan Kepala Saat Dzikir

Menundukkan dan Menggerakkan Kepala Saat Dzikir

Bagaimana hukum menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala ketika berdzikir?



Jika dengan menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala itu bisa menjadikan diri orang yang berdzikir lebih khusyu’, maka hal ini lebih baik baginya. Namun, jika dengan diam dia lebih khusyu’, tanpa menundukkan kepala atau menggerakannya, maka dzikir dengan keadaan diam itu lebih baik baginya. Dan jika kedua keadaan tersebut, yaitu diam dan menggerakkan atau menundukkan kepala, dirasa sama-sama khusyu’nya, maka bagi dia boleh memilih diam atau dengan gerakan. [Fatawi al-Kholili ‘ala Madzhab al-Imam Asy-Syafi’I, 36]


Imam Kholili ditanya tentang apa yang dilakukan orang-orang seperti menundukkan dan menggerak-gerakkan (kepala) ketika membaca dzikir dan lain sebagainya, apakah hal ini ada dasarnya dalam sunnah atau tidak? Apakah haram, makruh, sunnah atau ada pahalanya? Apakah hal ini sama dengan orang yang menyerupai dengan Yahudi atau tidak? Imam Kholili menjawab, ketika engkau memahami firman Allah: “Mereka adalah orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring.” [QS. Ali Imron:191] Dan firman Allah, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah.” [QS. Al-Ahzab:35]


Dilakukannya gerakan dalam dzikir dan bacaan, bukanlah sesuatu yang diharamkan atau dimakruhkan, akan tetapi gerakan tersebut dianjurkan dalam beberapa keadaan orang-orang yang berdzikir seperti berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, bepergian, berada di rumah, kaya dan miskin.


Imam Kholil berkata, “Berdzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, malam dan siang, di lautan dan daratan, dalam bepergian, maupun di rumah, dalam keadaan kaya atau miskin, sehat atau sakit, dalam keadaan sirri atau terang-terangan, dan dalam segala keadaan.


Selanjutnya dia berkata: betapa banyak orang yang berdzikir dengan diam yang lupa, namun ketika dia bergerak lebih utama baginya. Betapa banyak orang-orang yang berdzikir dan betapa banyak dzikir yang digerak-gerakkan sehingga gerakan itu menghilangkan kekhusyu’annya, dengan demikian diam itu lebih baik (baginya). Betapa banyak orang yang berdzikir atau yang membaca, yang kedua keadaan tersebut (bergerak atau diam) menjadi sama baginya, maka dia melakukan apa yang dikehendaki Allah, dan Allah menunjukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya pada jalan yang lurus, dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. [Fatawa al-Kholili ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i, hlm. 36]


WALLAHU A'LAM BISH SHAWAB

Badan Otonom

Muslimat NU
Read More
GP Ansor
Read More
Fatayat NU
Read More
IPNU
Read More
IPPNU
Read More
PMII
Read More
Jatman
Read More
JQH NU
Read More
ISNU
Read More
PSNU PN
Read More

Lembaga

LP Ma'arif NU
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama
RMINU
Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama
LBMNU
Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama
LESBUMI
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia
LAZISNU
Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama
LTNNU
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama
LAKPESDAM
Kajian Pengembangan Sumber daya
LDNU
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
LPBINU
Penanggulangan Bencana Perubahan Iklim
LTMNU
Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama
LKKNU
Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama
LFNU
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama
LPBHNU
Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama
LPNU
Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama
LPPNU
Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama
LKNU
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama
LPTNU
Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama
LTN NU
Lembaga Infokom dan Publikasi Nahdlatul Ulama
LWPNU
Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama

Contact

Talk to us

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis)

Alamat:

Jl. Tuntang, Pandean, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur 63133

Jam Kerja:

Setiap Hari 24 Jam

Telpon:

-